Just another Wordpress.com weblog

Antara Menyegerakandan Tergesa-gesa

Bagaian ke lima

 Rasulullah menasehatkan:

“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa

padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak

dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa

kepadamu dan mereka membenarkannya.”

 
alah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Begitu Islam

mengajarkan. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah mencapai

ba’ah adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap

dengannya. Ia mendatangi orangtua wanita tersebut dengan menjaga adab sambil

membersihkan niat.

 
Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:

Khath Arab

“Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah,

maka tidaklah ia termasuk golonganku.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).1

Nabi kita juga mengingatkan, “Bukan termasuk golonganku orang yang merasa

khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah.”

(HR Ath-Thabrani).

 
Sedang menyegerakan nikah bagi keluarga wanita adalah dengan mempercepat

pelaksanaan jika tidak ada kesulitan yang menghalangi. Juga, menyederhanakan

proses agar tidak membebani kedua mempelai. Mudah-mudahan mereka akan

mendapatkan rumah tangga yang barakah dan diridhai Allah, keluarga yang di

dalamnya terdapat anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa

ilaaha illaLlah.

 
Menyegerakan nikah insya-Allah lebih dekat kepada pertolongan Allah dan

syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah akan menyempurnakan

setengah agama kita kalau kita menyegerakan menikah. Insya-Allah, kita akan

mendapati pernikahan yang barakah. Sebuah pernikahan yang barakah akan

menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya tenteram dan saling memberi manfaat.

Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hidup yang sia-sia. Seorang

pemalas akan menjadi rajin, seorang peragu akan memperoleh yakin, dan seorang

yang bimbang akan memperoleh keteguhan.

 
Nikah adalah satu di antara tiga perkara yang sunnah untuk disegerakan. Allah

akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang

menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya-Allah

akan mendapati rahmat dan perlindungan Allah kelak di yaumil-hisab. Sebab,

sesungguhnya perbuatan menyegerakan nikah merupakan perkara yang disunnahkan

oleh Rasulullah. Dan setiap perkara yang disunnahkan, adalah tindakan yang diridhai

dan dicintai Allah.

 

Wallahu A’lam bishawab.

Akan tetapi, di dalam setiap perbuatan, setan berusaha untuk menggelincirkan

manusia. Jika orang tidak mau melakukan kemaksiatan, setan berusaha untuk

menggelincirkan manusia dengan menampakkan apa-apa yang sepintas mirip dengan

perkara yang disunnahkan.

 
Banyak contoh tentang ini. Agama menganjurkan kita untuk syukur nikmat,

mengabarkan dan menampak-nampakkan nikmat yang kita peroleh demi

mengagungkan kemurahan Allah. Dan setan berusaha untuk menyimpangkan niat

kita, sehingga kita menampak-nampakkan bukan dalam rangka syukur nikmat, tetapi

dalam rangka riya’ dan sum’ah. Jika riya’ adalah tindakan yang dilakukan dengan

harapan orang melihat kebaikan yang ada pada diri kita, sum’ah adalah tindakan agar

orang mendengarkan keunggulan kita.

 
Kadang orang bersikap merendah karena tawadhu’, tetapi orang bisa merendah

dalam rangka meninggikan diri di hadapan orang lain. Yang pertama, adalah

kemuliaan akhlak yang sering dianjurkan agama. Yang kedua, adalah rekayasa kesan

agar tampak sebagai orang yang memiliki kedalaman pemahaman agama.

Masih banyak yang lain. Hanya saja, kita sering tidak tahu bahwa yang ada pada

hati kita bukanlah sebagaimana yang diharapkan oleh agama. Bisa jadi, kita mampu

menunjukkan argumentasi (hujjah) atas apa yang kita lakukan. Kita berargumentasi

melalui kekuatan nalar dan lisan yang dikaruniakan kepada kita, akan tetapi hati kita

mengingkari. Sayangnya, kita pun sering tidak tahu bahwa hati kita mengingkari

disebabkan pekatnya penghalang mata hati kita untuk melihat beningnya kebenaran.

 

Perkara nikah juga demikian. Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan.

Meskipun demikian, kita bisa jadi terjatuh pada tindakan tergesa-gesa. Bersegera,

akan mendekatkan orang kepada saat menikah. Penantian yang telah melewati

berpuluh-puluh malam, insya-Allah segera terbayarkan dengan akad nikah yang

dalam waktu dekat akan terlaksana. Sementara itu, tergesa-gesa bisa jadi justru

menjadikan tibanya saat akad nikah harus melalui waktu yang lama.

Ada perbedaan yang jauh antara pernikahan yang disegerakan dengan pernikahan

yang dilaksanakan secara tergesa-gesa. Waktu yang dibutuhkan dari peminangan

sampai akad nikah bisa jadi sama. Tetapi, suasana yang terbawa dalam rumahtangga

sangat berbeda.

 
Pernikahan yang disegerakan insya-Allah penuh barakah dan diridhai Allah. Di

dalamnya, Allah mencurahkan perasaan sakinah kepada suami-istri tersebut. Bahkan,

suasana sakinah juga terasakan oleh seisi rumah, sanak famili yang mengetahui, serta

orangtua dari keduanya, kecuali bagi mereka yang sedang merasakan kekeruhan

dalam jiwanya.

Tapi, apakah sakinah itu? Wallahu A’lam. Sepanjang pengetahuan saya, sakinah

adalah ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan terbebasnya diri dari keinginankeinginan

 
yang dilarang, sebab sesuatu yang dilarang akan menimbulkan kegelisahan

dan kecemasan. Mereka juga tidak begitu terganggu oleh penilaian-penilaian sesaat

dari masyarakat, sebab mereka menyandarkan penilaian kepada sumber yang jernih

dalam soal-soal yang diatur dan mendasarkan pada kesepakatan dan kecintaan berdua

dalam soal-soal yang dilapangkan (mubah) bagi kita. Mereka mungkin akan

melakukan apa yang secara sosial diharapkan, tetapi itu bukan karena terdesak oleh

tekanan norma sosial semata. Melainkan menurut pertimbangan kemaslahatan.

Mereka mungkin akan menolak apa yang diharapkan secara sosial, tetapi itu bukan

karena ingin menentang tatanan. Tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan

berkenaan dengan madharat dan mafsadah.

 

Apa pengaruh sakinah bagi suami-istri yang baru memasuki jenjang pernikahan?

Apakah makna sakinah dalam membina kehidupan berumahtangga, mendidik anak,

dan menetapkan misi setelah mereka mempunyai anak dari pernikahan mereka?

Sayang sekali kita tidak bisa membahas saat ini. Mudah-mudahan Allah memberikan

petunjuk, ilmu, dan kekuatan pada saya untuk membahasnya di waktu lain dalam

kesempatan yang lebih baik. Saat ini, cukuplah saya katakan bahwa sakinah

menguatkan ikatan perasaan antara suami dan istri dengan jalinan perasaan yang

diliputi oleh kerinduan yang menenteramkan saat tidak bertemu dan ketenangan yang

menyejukkan saat berjumpa. Sakinah menumbuhkan kelembutan dan keramahan

dalam pergaulan mereka, termasuk dalam mendidik anak kelak, serta memunculkan

optimisme dan kekuatan jiwa ketika menghadapi masalah sehingga mereka tidak

lebih tua dari usianya.

 

Bagaimana suasana keluarga yang sakinah? Sayang sekali saya belum bisa

menggambarkan. Hanya saja, diam-diam saya kadang terkesan ketika menjumpai

hadis yang mengabarkan sebagian tandanya.

 

 

“Akan lebih sempurna ketakwaan seorang mukmin,” kata Rasulullah Saw., “jika

ia mempunyai seorang istri yang shalihah, jika diperintah suaminya ia patuh, jika

dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah

membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta

suaminya.”

“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw. menunjukkan,

“adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu

pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;

kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang

damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri

yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga

tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga

kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu

lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang

sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Kita cukupkan pembicaraan sekilas tentang sakinah. Kita kembali lagi kepada

pembahasan kita mengenai pernikahan yang disegerakan dan pernikahan yang

tergesa-gesa.

 

Jika pernikahan yang disegerakan lebih dekat kepada kemaslahatan dan barakah,

maka pernikahan yang tergesa-gesa lebih dekat kepada kegersangan dan kekecewaan.

Pernikahan yang tergesa-gesa mendatangkan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ia

mendapati istrinya menyusahkan dan membuatnya cepat beruban sebelum waktunya

(he hmm, tapi bukan cepat beruban karena minyak rambut).

Saya teringat kepada penghujung do’a Nabi Daud ‘alaihissalam, “Ya Allah, …

Hindarkanlah saya dari anak-anak yang durhaka terhadap orangtuanya; harta yang

jadi bencana bagi saya maupun orang lain; tetangga yang buruk sifatnya, yaitu jika

melihat kebaikan pada saya difitnahnya dan jika melihat keburukan

disebarluaskannya, dan istri yang menyusahkan, membuat saya beruban sebelum

waktunya.”

 

Jika pernikahan yang barakah membuat rumah terasa damai dan penuh kasih

sayang, pernikahan yang tidak barakah mengakibatkan rumah terasa sempit dan

orang tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Ukuran fisiknya barangkali luas,

bahkan jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada kelapangan di dalamnya.

Betapa bedanya antara luas dan lapang.

 

Pernikahan yang barakah insya-Allah akan kita dapati ketika kita menyegerakan

nikah. Tetapi, pernikahan yang dilakukan tergesa-gesa justru bisa melahirkan

kehampaan, kecuali kalau Allah menolong kita mengambil jarak dari keadaan kita

sendiri, melakukan introspeksi yang teliti dan berhati-hati dalam menilai masalah.

Selanjutnya, mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan (hifdhul-lisan) dari mengatakan

apa-apa yang tidak baik di hadapan Allah dan manusia mengenai pasangan

hidup kita, sekalipun dia tidak tahu. Sebab ungkapan kekesalan dan kekecewaan —

apalagi sampai menutupi kebaikan yang ada padanya– bisa menjadi do’a yang pasti

 

dikabulkan ketika ucapan itu keluar bersamaan dengan sa’atu-nailin, yaitu saat ketika

ucapan menjadi do’a, dan do’a pada saat itu pasti terkabul.

Pembicaraan mengenai ini akan semakin panjang jika diteruskan. Cukuplah kita

akhiri dengan berdo’a, mudah-mudahan Allah mengarunia kita dengan kemuliaan dan

kebarakahan dalam keluarga kita. Semoga dari sana lahir keturunan yang memberi

bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Keturunan yang hukmashabiyya

 

rabbi radhiyyah, yang memberikan kesejukan mata dan ketenteraman jiwa

di dunia hingga kelak di hari kiamat.

Selanjutnya, mari kita lihat perbedaan antara menyegerakan dan tergesa-gesa.

Kita akan membicarakan masalah ini melalui dua cara. Pertama, melalui tanda-tanda

hati (mudah-mudahan Allah menjernihkan hati kita). Kedua, melalui perumpamaan

yang dapat dipikirkan oleh akal.

————————-

Tanda-tanda Hati

————————-

“Orang yang mempunyai niat yang tulus,” kata Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru

dari Imam Abu Hanifah, “adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran

mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk

Allah dalam segala perkara.”

 

Pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang

yang datang kepada Allah dengan hati yang suci. (QS 26: 88-90).

Kalau kita menyegerakan nikah karena niat yang jernih, insya-Allah hati kita

akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah

yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan dan kekhawatiran

meliputi dada. Kita merasa tenang, meskipun ada sejumlah masalah yang membebani

dan menyita perhatian.

 

Ketenangan dan beban masalah bukanlah dua hal yang bertentangan. Seperti

seorang ibu yang telah memiliki kematangan, kedewasaan dan kasih sayang besar

kepada anak serta pengharapan besar terhadap ridha Allah. Saat menghadapi

persalinan, ia merasakan ketenangan hati dan keyakinan. Meskipun harus melewati

perjuangan mendebarkan yang melelahkan secara fisik dan ketegangan psikis, namun

ketegangan ini bukan sejenis perasaan tidak aman.

 

Lain halnya dengan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan ditandai oleh perasaan tidak

aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu. Seperti berdiri di depan anjing

galak yang tidak pernah kita kenal, ada perasaan ingin untuk cepat-cepat berlari pergi

menjauhi tempat itu. Kalau berlari, takut dikejar dan terjatuh. Kalau tetap berdiri di

dekatnya, tidak ada kepastian dan ada kekhawatiran jangan-jangan anjing itu

menggigit.

Inilah gambaran sekilas. Kalau belum jelas, bertanyalah kepada hati nuranimu.

Mintalah fatwa kepadanya.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa

padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak

dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa

kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR Ahmad).

————————————-

Tanda-tanda Perumpamaan

————————————-

Kalau suatu saat Anda naik motor dan menjumpai tikungan tajam, apa yang

Anda lakukan? Apakah Anda akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi

kecepatan karena ingin cepat sampai? Atau, Anda mengurangi kecepatan sedikit,

menelikung dengan miring, dan sesudah berbelok baru menambah kecepatan sedikit

demi sedikit?

 

Jika Anda memilih yang pertama, sangat mungkin Anda terpental sendiri. Anda

terjatuh, sehingga harus berhenti sejenak atau agak lama. Baru kemudian dapat

meneruskan perjalanan.

Keinginan Anda untuk cepat sampai di tempat tujuan dengan tidak mengurangi

kecepatan, apalagi justru dengan menambah kecepatan, tidak membuat Anda lebih

cepat sampai dengan tenang, tenteram, dan aman. Bisa-bisa, kalau kecepatan Anda

tetap antara sebelum berbelok dengan saat-saat berbelok, Anda justru terpental.

Antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, tidak seimbang.

Jika Anda memilih yang kedua, insya-Allah Anda akan dapat sampai lebih cepat.

Awalnya memang mengurangi kecepatan, tapi sesudah betul-betul memasuki

tikungan dengan baik, Anda bisa menambah kecepatan. Jika Anda mengurangi

kecepatan lebih banyak lagi, Anda bahkan dapat membelok tanpa harus memiringkan

badan banyak-banyak.

 

Jalan yang lempang adalah tamsil dari masa melajang, masa ketika masih sendiri.

Belokan adalah proses peralihan menuju status baru, menikah dan berumah tangga.

Sedang jalan berikutnya yang dilalui setelah berbelok, adalah kehidupan keluarga

setelah menikah.

Pilihan pertama adalah sikap tergesa-gesa untuk menikah, sedangkan pilihan

yang kedua adalah menyegerakan.

 

Ada perumpamaan lain. Kita melihat perumpamaan yang dekat-dekat dengan

kita. Kalau suatu saat Anda bikin kolak kacang hijau, ada beberapa bahan yang perlu

Anda masukkan. Bahan yang paling pokok adalah kacang hijau dan gula. Kalau

Anda memasukkan gula bersamaan dengan kacang hijau, sesudah itu segera direbus,

Anda akan mendapati kacang hijau itu tidak mau mekar. Anda tergesa-gesa. Kalau

Anda memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar, Anda menyegerakan. Tetapi,

kalau Anda lupa tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup

lama, Anda akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.

Sampai di sini, saya kira cukup pembahasan mengenai menyegerakan dan

tergesa-gesa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan

orang-orang yang menyegerakan, bukan tergesa-gesa. Semoga Allah menjadikan

pernikahan kita barakah dan diridhai Allah.

Saya memohon perlindungan kepada Allah dari penjelasan yang tidak menambah

kejelasan. Mudah-mudahan apa yang kurang dalam tulisan ini menjadikan Anda

berhati-hati. Mudah-mudahan apa yang terang, menjadikan Anda mempunyai

keyakinan hati. Mantap dalam melangkah.

—————————–

Segala Puji bagi Allah

—————————–

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan banyak karunia. Dialah Yang

Awal dan Yang Akhir. Maha suci Allah dari segala persangkaan hamba-hamba-Nya.

Maha Mulia Allah yang menurunkan hujan untuk mensucikan bumi dan

menumbuhkan berbagai tanaman, baik yang berbuah, yang berbunga maupun yang

berbuah sekaligus berbunga.

Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan dan petunjuk

kepada saya untuk menulis bab ini, sekaligus buku ini secara keseluruhan. Semoga

menjadi do’a yang baik. Menjadi sunnah hasanah yang diridhai.

——————-

Catatan Kaki:

——————-

1. “Ini dinisbahkan atas nama Nabi yang Nabi sama sekali terbebas dari

mengucapkan yang demikian. Ini hadis dha’if.” Kata Ustadz Abdul Hakim

Abdats, “Hadis ini mursal, tabi’in langsung menyandarkan kepada nama Nabi,

jelas tidak membawa nama sahabat.”

 (bersambung… dong>>>>>>>>>)

Comments on: "Sebeleum samapai ke akad nikah (5)" (2)

  1. akhi, dr buku apa referinsinya? soalx, bgus jd pgangan kelak. bukan “kado pernikahan untuk istriku”?

  2. OK… bagus, analoginya pas banget!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: