Just another Wordpress.com weblog

Bagian ke tiga

MengenaiSumber Informasi danPerantara

 

uatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ingin menilai

seorang laki-laki yang datang kepada beliau memohon agar diberi jabatan

dalam pemerintahan. Umar r.a. berkata kepadanya, “Bawa orang yang

mengenalmu ke sini!”

Lelaki itu pulang dan kembali membawa seorang teman. Lalu Umar r.a. bertanya

kepada orang itu, “Apakah kau kenal orang ini?”

“Ya.”

“Apakah kau tetangganya, dan tahu keadaan yang sebenarnya?” Umar r.a.

bertanya.

“Tidak,” kata orang itu.

“Apakah kau pernah menemaninya dalam perjalanan, sehingga kau tahu pasti

perangai dan akhlaknya…”

“Tidak.”

“Apakah kau pernah berhubungan masalah uang dengan orang itu, sehingga kau

tahu bahwa dia sangat takut memakan barang yang haram?”

“Tidak”.

“Apakah kau hanya mengenalnya di masjid ketika dia berdiri dan duduk di

masjid?”

“Ya”.

“Enyahlah kau dari sini. Kau tidak mengenalnya!”

Lalu Umar r.a. menoleh kepada laki-laki yang datang kepadanya itu dan berkata,

“Bawa lagi orang yang benar-benar mengenalmu ke sini.”

Kado Pernikahan 46

Dalam riwayat lain dikatakan, ada seseorang berkata kepada Amirul Mukminin

Umar r.a. bahwa di fulan itu seorang yang jujur. Maka Amirul Mukminin bertanya,

“Apakah kau pernah menempuh perjalanan bersamanya?”

“Tidak”.

“Apakah pernah terjadi permusuhan antara kau dan dia?” tanya Umar bin

Khaththab.

“Tidak.”

“Apakah kau pernah memberinya amanat?”

“Tidak.”

“Kalau begitu,” kata Umar r.a., “kau tidak mengenalnya selain melihatnya

mengangkat dan menundukkan kepalanya di masjid.”

Kisah percakapan Umar bin Khaththab ini saya angkat dari buku Memilih Jodoh

dan Tatacara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) karya Husein Muhammad Yusuf

ketika membicarakan tema cara memilih suami yang baik.

Dalam dua riwayat tersebut, Umar memeriksa apakah orang yang dihadapkan

kepadanya memenuhi syarat untuk menjadi sumber informasi mengenai seseorang.

Dalam proses pernikahan, pihak calon pengantin perempuan seringkali membutuhkan

sumber informasi. Kadang, sumber informasi ini sekaligus menjadi perantara

(comblang) yang mengusahakan pertemuan dua pihak menjadi satu keluarga. Sering

juga, calon pengantin membutuhkan informasi dari berbagai sumber informasi di luar

perantara.

Selama proses menuju pernikahan, orang membutuhkan sumber informasi.

Pertama, untuk memperoleh keterangan mengenai aspek-aspek pribadi calon

suami/istri. Kedua, orang yang membutuhkan sumber informasi, bisa untuk

memperoleh keterangan tentang persoalan-persoalan temporer (sesaat) dan

situasional. Tentang persoalan kedua ini, insya-Allah kita akan membahasnya pada

bab berikutnya Selama Proses Berlangsung, segera setelah bab ini selesai.

Memperantarai dua orang untuk menikah mendapat kedudukan mulia dalam

Islam. Membantu dua orang yang berkeinginan untuk menikah, sehingga Allah

mempertemukan mereka sebagai suami istri yang sah di hadapan Allah, insya-Allah

lebih dekat kepada ridha Allah. Ada berbagai keterangan mengenai keutamaan

menjadi perantara nikah, insya-Allah termasuk menjadi sumber informasi bagi mereka

yang mau menikah. Tetapi bukan bagian saya untuk membahas masalah ini,

mengingat belum adanya ilmu pada saya tentang ini. Selain itu, saya belum tepat

untuk membicarakan masalah ini. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.

Cukuplah saya kutipkan nasehat Sayyidinina ‘Ali bin Abi Thalib karamallahu

wajhahu. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik syafaat adalah memperantarai dua orang

untuk menikah, di mana dengan itu Allah mengumpulkan mereka berdua.”

Selanjutnya, saya ingin membahas beberapa hal penting bagi mereka yang

meniatkan diri untuk memperantarai pernikahan. Demikian juga bagi sumber

informasi yang dimintai keterangan oleh salah satu pihak calon pengantin.

Pembahasan ini saya harapkan juga bisa bermanfaat bagi mereka yang akan menikah,

—————————-

Kado Pernikahan 47

—————————-

sehingga mereka memperoleh maslahat dan barakah yang besar dalam pernikahan.

Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada saya tentang ini,

memperjalankan saya dengan kekuasaan-Nya untuk menepati petunjuk-Nya, dan

menjauhkan saya dari kekeliruan-kekeliruan saya sendiri.

————————————–

Pertama,

Memberi Informasi Objektif

—————————————-

Perantara maupun sumber informasi seyogyanya memberikan informasi yang

objektif. Ia memberi keterangan yang bersifat informatif sehingga dapat bermanfaat

bagi calon pengantin maupun keluarganya untuk menilai calon pasangannya.

Adakalanya, sebagian informasi tidak informatif, tidak bernilai sebagai

informasi. Justru, kadang malah menimbulkan penilaian (persepsi) yang salah tentang

calonnya. Tidak informatifnya keterangan yang diberikan, kadang karena kurangnya

deskripsi (penggambaran) mengenai informasi yang abstrak.

Kalau Anda mengatakan “dia wanita yang baik” ketika ada seseorang yang

memiliki “maksud” bertanya, maka perlu Anda tunjukkan perilaku-perilaku dan sikap

yang membuat Anda menyimpulkan dia sebagai wanita yang baik. Tanpa penjelasan,

peminang bisa salah persepsi sehingga ia menemui kekecewaan-kekecewaan yang

beruntun setelah menikah. Padahal, andaikata ia memperoleh keterangan yang

objektif dan informatif, insya-Allah dia justru mendapati istrinya sebagai wanita yang

menyejukkan, sekalipun ada kekurangan-kekurangan.

—————————-

Kedua,

Tidak Persuasif

—————————-

Kita sebaiknya tidak memberi keterangan yang bersifat persuasif (membujuk).

Keterangan yang persuasif, apalagi jika sengaja mempersuasi agar kedua orang itu

berhasil dipertemukan, dapat memunculkan kondisi psikis yang tidak

menguntungkan.

Pertama, informasi persuasif (bersifat membujuk, promosi) dapat memunculkan

harapan (atau malah angan-angan) yang terlalu tinggi mengenai calonnya. Ini

menjadikannya kurang peka terhadap kebaikan-kebaikan pasangannya kelak setelah

menikah, karena secara tak sadar selalu membandingkan dengan harapan semula

sebelum menikah. Ia lebih peka terhadap kekurangan, meskipun sedikit, sementara

kebaikannya sebenarnya banyak.

Keadaan ini mudah menimbulkan kekecewaan atau bahkan kecenderungan untuk

melakukan penolakan psikis terhadap pasangannya. Padahal, semakin tidak bisa

mensyukuri kebaikan pasangannya, semakin besar penderitaan psikisnya. Sementara

Kado Pernikahan 48

untuk mengambil jarak dari masalah, lebih sulit karena sudah mengalami distorsi

kognitif.

Sebagian informasi persuasif ini berasal dari buku-buku yang lebih banyak

menjanjikan keindahan yang akan didapatkan ketika menikah, tetapi kurang banyak

membahas pada bagaimana keduanya harus memperjuangkan keluarganya. Ketiadaan

misi dan lebih banyak persuasi, menumbuhkan harapan yang tidak seimbang.

Kedua, informasi yang persuasif mengarahkan harapan orang tentang keindahankeindahan

yang akan diberikan pasangan hidupnya. Bukan apa yang kelak perlu ia

lakukan kepada pasangannya. Ini menjadikannya mudah merasa kurang terhadap apa

yang telah diberikan oleh pasangannya. Bahkan, ketika pasangannya telah banyak

memberikan keindahan-keindahan, kehangatan dan penghormatan, ia tidak

merasakannya sebagai kebaikan yang layak disyukuri. Ia menerimanya sebagai

sekedar kewajaran yang memang sudah seharusnya ia terima. Tuntutan terhadap

pasangan lebih mudah muncul dalam dirinya. Susahnya, tuntutan itu sering tidak

dinyatakannya karena ia merasa bahwa mengenai hal itu “seharusnya dia sudah

mengerti”.

K.H. Jalaluddin Rakhmat menceritakan, bila sepasang suami-isteri saling

mencintai, lama kelamaan wajahnya akan saling mirip satu dengan yang lain. Terjadi

perubahan fisiologis di antara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis.

Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dari perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti.

Wallahu A’lam. Tetapi ada yang patut dicatat dari cerita Kang Jalal. Suami-istri

yang saling mencintai akan saling menemukan kesamaan-kesamaan. Kalau mereka

menjumpai perbedaan, insya-Allah mereka akan berusaha mempersamakan atau

menoleransi perbedaan. Ada sebuah keluarga yang setiap membuat sayur, harus selalu

dipisahkan dua ketika suami di rumah. Istrinya suka masakan yang manis, sedang

suaminya suka asin. Tetapi keduanya hidup harmonis.

Tetapi ketika harapan terhadap pasangan terlalu tinggi, ia akan peka terhadap

perbedaan-perbedaan. Sementara perbedaan yang ada melahirkan kesenjangan psikis

maupun komunikasi.

Sesungguhnya, kalau kita selalu mencari perbedaan pada diri pasangan sebagai

kekurangan, maka tidak ada orang yang sama persis dengan kita kecuali dengan diri

kita sendiri. Tetapi, kalau kita mencari kesamaan-kesamaan sebagai kebaikan atau

untuk introspeksi, insya-Allah kita akan menjumpai kesamaan pada pasangan kita

sebanyak yang kita cari. Wallahua’lam wallahul musta’an.

Ketiga, orang justru menjadi takut menikah karena membandingkan persepsinya

(penilaiannya) mengenai calon dengan keadaan dirinya. Seorang ikhwan bisa bisa

merasa minder dan “ngeri”, karena menganggap akhwat yang ia harapkan terlalu

tinggi derajatnya dan “hampir-hampir mencapai kesempurnaan”. Alhasil, ia tidak

berani meminang atau menerima pinangan justru karena pengaruh informasi yang

persuasif. Padahal, keadaan yang sesungguhnya tidak demikian.

———————————-

Kado Pernikahan 49                       

———————————-

Dalam kasus ini, informasi persuasif justru bisa mendekatkan kepada madharat.

Allahua’lam wastaghfirullahal ‘adzim.

———————————————————————-

Ketiga,

Memberi Informasi Menurut Apa yang Diketahui

———————————————————————–

Nilai keutamaan orang yang memperantarai pernikahan atau pun yang menjadi

sumber informasi, insya-Allah terletak pada usaha untuk memberi keterangan yang

tepat. Bukan pada banyaknya informasi yang dapat ia sampaikan. Seyogyanya, kita

menjauhkan diri dari memberi informasi yang bersifat qila wa qila (katanya sih

katanya, kononnya konon). Informasi mengenai hal-hal fisik, seharusnya ia ketahui

dari melihat langsung.

Bagi Anda yang ingin mengetahui keadaan fisik calon, masalah ini perlu

mendapat perhatian. Wajah dan telapak tangan, dapat Anda lihat sendiri. Tetapi

mengenai bagian fisik lainnya, Anda perlu meminta orang lain jika Anda ingin

mengetahuinya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah Saw.

Imam Ahmad, Imam Thabrani, Imam Hakim, dan Imam Baihaqi pernah

meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik r.a. Suatu ketika, Rasulullah Saw.

pernah mengutus Ummu Sulaim r.a. kepada seorang wanita (yang akan dilamar).

Rasulullah mengatakan, “Perhatikanlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau

lehernya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Saw. berkata, “Ciumlah bau gigi

(depannya) di sepanjang lebar mulutnya.”

—————————————

Keempat,

Lebih Melihat Pada Usaha

—————————————

Memperantarai dua orang untuk menikah, menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib

karamallahu wajhahu merupakan sebaik-baik syafaat. Nilai usaha orang yang

memperantarai, insya-Allah terletak pada kesungguhannya dalam mengusahakan.

Berhasil atau tidak, baginya pahala orang menikahkan dua orang saudara sesama

Muslim.

Karena itu, seorang perantara hendaknya lebih memperhatikan kemaslahatan

dalam mengusahakan, bukan berorientasi pada keberhasilan mempertemukan.

Kegagalan mempertemukan insya-Allah bukan keburukan, jika Anda mengusahakan

pada kemaslahatan. Kesudahan bagi keduanya insya-Allah baik.

Sebaliknya, keberhasilan mempertemukan tetapi kurang memperhatikan

kemaslahatan-kemaslahatan, terma-suk dalam memberi informasi, bisa justru

menghasilkan madharat. Mudah-mudahan Allah Swt. memasukkan kita ke dalam

———————————-

Kado Pernikahan 50

———————————

golongan orang-orang yang selamat dan bahagia. Bukan golongan orang-orang yang

tersesat dan menderita.

———————————————–

Kelima,

Moderat dan Tidak Menyudutkan

———————————————–

Adakalanya orang yang diperantarai menghadapi beberapa pilihan. Menentukan

pilihan untuk masalah yang menyangkut kehidupan selama di dunia dan sampai

akhirat ini, bukan perkara mudah. Butuh kejernihan agar tidak terombang-ambing

oleh desakan hawa nafsu yang jahat. Butuh kejernihan, agar hati semakin berih dan

lurus ketika mengambil keputusan. Tidak justru merusak niat. Padahal, niat adalah

masalah mendasar dalam mengambil keputusan.

Seorang perantara yang menjumpai keadaan seperti ini, hendaknya berusaha

untuk bersikap moderat. Sikap moderat (al-wasthiyyah) insya-Allah lebih dekat

kepada kemaslahatan dan ridha Allah. Sekalipun ia berdiri untuk memperantarai salah

satu orang yang sedang dipertimban-kan, ia sebaiknya bersikap netral.

Kecenderungan hati barangkali sulit dihapuskan. Tetapi, insya-Allah akan baik kalau

ia mencoba memilih berdiri di tengah-tengah dalam ucapan. Ini akan membuahkan

ketenangan. Dan ketenangan lebih dekat kepada kejernihan.

Adakalanya sebagian orang bersikap kurang moderat. Ia cenderung mengarahkan

pikiran orang yang diperantarai, sekalipun barangkali tidak disadari. Kadang-kadang

bahkan mengarahkan kepada “sikap negatif” yang memojokkan, sehingga orang yang

diperantarai merasa tertekan. Merasa berada pada situasi yang riskan. Atau,

menyebabkan orang yang diperantarai tertekan secara emosional. Padahal, dalam

saat-saat seperti itu, yang ia butuhkan adalah kejernihan dan ketenangan agar lebih

dekat kepada tawakal dan ridha Allah. Pada saat-saat seperti ini orang yang hendak

menikah sangat perlu menjaga prasangka dan keyakinannya terhadap Allah Swt.

Moderat lebih dekat dengan keseimbangan. Saya pernah mendengar seorang

perantara memberikan pertanyaan yang bernada memojokkan, “Apa sudah ada tandatanda

penolakan dari pihak sana?”

Pertanyaan yang semacam ini juga termasuk tidak netral dan bisa menyebabkan

ketidakamanan secara emosional, “Bagaimana, apa sudah ada kecenderungan ke

pihak yang di sini? Barangkali sudah ada kepastian kalau tidak jadi.”

Pertanyaan-pertanyaan sejenis, juga keterangan-keterangan lain yang tidak

berimbang, membawa orang yang diperantarai kepada situasi yang tidak

mengenakkan emosi. Keputusan yang hampir jadi sesuai yang dikehendaki perantara,

bisa justru mentah kembali karena pertanyaan atau pun pernyataan yang menyudutkan

secara emosional.

—————————-

Kado Pernikahan 51

—————————–

Saya ingat kisah Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu. Semua musuhnya tahu

kalau Sayyidina ‘Ali sudah mengangkat pedang, sulit mengelak dari tebasannya ketika

berhadapan di medan peperangan.

Suatu ketika, seorang musuh berada pada situasi terdesak. Ia berhadapan dengan

Sayyidina ‘Ali. Merasa terdesak dan tak ada pilihan lain, ia meludahi Sayyidina ‘Ali.

Pedang yang hampir menebas, ternyata tidak jadi menghilangkan nyawanya.

Mengapa Sayyidina ‘Ali mengurungkan tebasan pedangnya? Beliau tidak ingin

mengayunkan pedangnya karena hati yang terusik oleh ludah.

Sikap seorang ustadz berikut agaknya bisa dicontoh. Ketika ada orang

mengajukan masalahnya, ia menunjukkan sisi baik dari keduanya secara berimbang.

Kekurangan pada salah satu pihak, ditunjukkan sebagai kesempatan untuk

memperoleh kemuliaan akhirat, dan diimbangi dengan kelebihan yang mungkin ada.

Sementara kekurangan pihak lainnya, dijelaskan dengan cara yang sama secara

seimbang dan adil.

———————————-

Keenam,

Memotivasi Jika Mampu

———————————-

Sebagian perantara maupun sumber informasi, selain memberikan keterangan

yang diperlukan juga memberi motivasi. Ini baik, agar orang bersemangat dan tetap

optimis menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada. Jika orang yang diperantarai

masih ragu-ragu, motivasi dapat membuatnya yakin dan mantap untuk segera

melangkah ke jenjang pernikahan. Ia dapat memikirkan kesulitan-kesulitan yang ada

secara tenang, sehingga Allah memudahkannya keluar dari masalah. Insya-Allah.

Meskipun demikian, seorang perantara maupun sumber informasi perlu berhatihati

dalam memberikan motivasi (targhiib). Syukur, jika motivasi yang diberikan

lebih dapat menumbuhkan keyakinan terhadap pertolongan Allah. Sesungguhnya

Allah itu dekat dan sangat luas karunia-Nya. Juga berkenaan dengan firman Allah

Swt, “Fa idza ‘azzamta, fa tawakkal ‘alaLlah.” Maka, jika kamu telah membulatkan

tekad, bertawakkallah kepada Allah.

Jika Anda dapat memotivasi orang ke arah yang demikian, insya-Allah kelak

Anda akan mendapatkan syafa’at dan keutamaan di akhirat. Sementara itu, di mata

manusia sikap demikian merupakan kemuliaan.

Akan tetapi, jika Anda memotivasi dengan menonjolkan aspek-aspek pada diri

calon yang mungkin menjadikannya lebih terpengaruh, saya khawatir kesudahannya

malah tidak baik. Sikap ini rawan terhadap impression management (pengelolaan

kesan). Dan impression management mendekati manipulasi informasi, tidak

menunjukkan sebagian informasi untuk lebih menonjolkan informasi yang dianggap

penting. Ini menimbulkan kesan dan harapan. Kalau tidak sesuai dengan yang

diangankan, dapat menimbulkan kekecewaan di belakang hari.

Kado Pernikahan 52

Menceritakan aspek-aspek yang ada pada diri calon, boleh dilakukan. Tetapi

hendaknya tetap memperhatikan, agar keterangan tersebut tidak mendorong

munculnya persepsi yang keliru dan harapan yang tidak tepat. Bersyukur, jika sumber

informasi atau perantara dapat memberikan keterangan mengenai diri calon sekaligus

mengarahkan pada kelurusan niat. Ada ladang amal shalih di dalamnya.

—————————————————————————-

Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita

—————————————————————————

Jika seorang wanita bermaksud menawarkan diri dan meminta bantuan kepada

Anda untuk memperantarai, ada persoalan yang perlu mendapat perhatian. Perantara

adalah penghubung antara maksud mulia seorang wanita dengan laki-laki yang

diharapkan. Sekaligus, ia menjadi orang pertama yang memberi keterangan kepada

pihak laki-laki mengenai wanita yang mempunyai maksud.

Perantara perlu berhati-hati dalam mengemukakan alasan wanita tersebut

memilih laki-laki yang dimaksudkan. Ia perlu menjaga agar sikap dan keterangannya,

tidak menimbulkan pandangan yang keliru dari laki-laki yang dimaksud terhadap

wanita yang menginginkannya. Ini terutama berkait dengan wanita itu, sekaligus nanti

pengaruh mendasarnya pada niat laki-laki itu ketika mempertimbangkan.

Niat dan harapan, sebagaimana kita bahas di bagian awal bab ini, sangat

mempengaruhi bagaimana orang menjalani kehidupannya setelah berumahtangga.

Seorang perantara sebaiknya berusaha untuk tidak menonjolkan aspek fisik,

terutama kecantikan dan kekayaan, dengan harapan agar laki-laki yang dimaksudkan

lebih terdorong. Kalaupun wanita itu bermaksud mempercayakan hartanya kepada

suaminya, perantara sebaiknya berusaha mengarahkan kepada kelurusan niat. Kisah

Rabi’ah binti Ismail Asy-Syamiyah, menarik untuk disimak.

Selanjutnya, pembicaraan ini saya cukupkan dengan dua hadis Nabi Saw.

Mudah-mudahan dapat menjadi renungan. Mudah-mudahan Allah memberikan

petunjuk.

Imam Thabrani meriwayatkan hadis dari Anas bin Ma-lik r.a. yang menyebutkan

bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya

(jabatannya), maka Allah hanya akan menambahkan kehinaan.”

“Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan

menambah kecuali kefakirannya.”

“Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasabnya (kemuliaannya), maka

Allah hanya akan menambahkannya kerendahan.”

“Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita ka-rena ingin menutupi

(kehormatan) matanya, membentengi farjinya, dan mempererat tali silaturrahmi,

maka Allah akan memberikan barakah-Nya kepada dia (suami) dan istrinya (dalam

kehidupan keluarganya).”
——————————

Kado Pernikahan 53

——————————-

Ada hadis senada yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam An-Nasa’i.

Di samping itu, terdapat hadis-hadis lain yang memberikan peringatan dalam soal ini.

Sebagai penutup, marilah kita simak hadis riwayat Imam Abu Daud dan At-Tirmidzi

berikut.

Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian menikahi wanita karena

kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran.

“Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi

kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan.

“Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita

yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya

dan cantik yang tidak beragama)”.

Begitu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemuliaan kepada mereka yang

telah memperantarai dengan bijak dan adil. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita

semua. Allahumma amin.

‘Alaa kulli hal, semoga Allah memberi kekuatan dan kejernihan kepada kita jika

ada yang membutuhkan informasi dari apa yang kita ketahui tentang seseorang atau

ketika ada yang harus kita perantarai.

Sungguh, tidak mudah menjaga kejernihan hati. Tetapi, juga tidak mudah untuk

melepaskan diri dari ghurur (keadaan terkelabui); menyangka berhati-hati, tetapi

sesungguhnya bukan. Sebagaimana juga tidak mudah melepaskan diri dari keburukan,

meski kita telah tahu ada penyakit hati yang bersarang.

Hanya Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menolong kita. Dan atas segala

kesalahan saya pada Anda, maafkan saya.

 

Comments on: "Sebelum Samapai Ke Akad Nikah (3)" (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: