Just another Wordpress.com weblog

Mempertimbangkan Pinangan

uatu waktu,“ demikian seorang akhwat dalam suratnya menuturkan,

“(saya) bertemu dengan beberapa akhwat yang sedih dengan godaan dari

sekian ikhwan dalam sekian perjumpaan.”

“Apa jawab atas masalah ini?” kata akhwat tersebut melanjutkan, “Ada

kesamaan dalam jawaban, bahwa ketika seorang akhwat sudah menikah, maka insya-

Allah kemungkinan digoda lebih kecil karena si penggoda akan lebih mikir-mikir

kalau ia sudah bersuami.”

Akhwat itu kemudian melanjutkan, “Sampai-sampai, ada yang berencana untuk

memakai cincin nikah walaupun belum menikah, demi menghindari godaan. Karena

ternyata berkerudung pun masih sering digoda. Sehingga nikah dipandang dapat

digunakan sebagai kerudung keamanan.”

Ketika usia semakin bertambah, orang semakin peka terhadap dorongan untuk

berumah-tangga. Pada diri manusia, memang terdapat naluri untuk mengikat

persahabatan dengan lawan jenis. Dorongan ini muncul pada diri laki-laki maupun

perempuan. Seorang wanita yang matang, mengekspresikan kebutuhannya terhadap

lawan jenis sebagai teman hidup dengan cara-cara yang dewasa dan mempersiapkan

diri baik-baik untuk menyambutnya, jauh-jauh hari sebelumnya. Kerinduan terhadap

teman hidup yang membantunya bertakwa kepada Allah, ditunjukkan dengan usaha

yang sungguh-sungguh untuk menata hati dan tujuan.

Sementara itu, wanita yang belum matang orientasi hidupnya lebih banyak

menunjukkannya melalui bentuk-bentuk lahiriah. Kurang matangnya kondisi psikis,

membuat ia kurang mempercayai daya tarik psikis. Apalagi ikatan-ikatan yang lebih

—————————

Kado Pernikahan 16

—————————

bersifat ideologis atau menyentuh kedalaman aqidah. Ia akan lebih mempercayai daya

tarik badaniah. Bahkan, pada taraf ini pun ia sering mengalami keraguan, sehingga

memilih kosmetik untuk membuatnya lebih menarik. Ini di satu sisi. Di sisi lainnya,

ketika ia mulai menginjak usia yang layak baginya untuk menjadi istri dan ibu,

terkadang ia “harus” disibukkan oleh laki-laki yang juga sudah mulai menginjak

masanya. Sebagian laki-laki hanya merasakan dorongan, tetapi belum memiliki

keberanian untuk sungguh-sungguh menemaninya sebagai suami yang setia dan

bertanggung jawab. Sebagian telah memiliki niat dan keinginan untuk bersungguhsungguh

menjalin ikatan pernikahan dengan seorang akhwat yang siap dan qanitat,

tetapi masih ada kendala-kendala psikis. Masih ada keraguan, sehingga ia lebih

memilih untuk melemparkan godaan-godaan halus atau godaan-godaan yang agak

lebih terang-terangan dengan harapan bisa bersambut dengan pertanyaan serius dari

akhwat (siapa tahu?).

Sebagian ikhwan mengalami kejutan beitu mendengar kajian tentang pentingnya

menyegerakan nikah, sehingga ia menghadapi akhwat dengan semangat meluap-luap,

apakah ia siap dikhitbah. Sayang, dorongan yang meluap-luap itu kadang tidak

disertai dengan kesiapan dalam hal-hal lain, terutama dalam hal ilmu berkenaan

dengan tugas kerumahtanggaan maupun dalam memenuhi kebutuhan istri. Di antara

tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, ada kalanya baru satu yang ia miliki, yaitu

kesiapan memenuhi kebutuhan biologis. Sedang kebutuhan psikis dan kebutuhan

ma’isyah (nafkah), lazimnya kurang diperhatikan. Seorang ikhwan bahkan sempat

mengemukakan pendapatnya, bahwa orangtua mestinya membiasakan diri

menumbuhkan budaya yang memungkinkan anak laki-lakinya segera menikah dengan

jalan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang akan terbentuk itu. Padahal

kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi ada pada suami, bukan pada orangtua

suami.

Sebagian ikhwan telah menyiapkan bekal secara sungguh-sungguh sehingga

betul-betul bisa menjadi pendamping istri yang insya-Allah diridhai Allah. Pada diri

mereka barangkali masih banyak kekurangan, meskipun demikian mereka dengan

serius berikhtiar untuk memperbaiki diri dalam hal kesiapannya memenuhi tiga

kebutuhan istrinya maupun dalam hal kesiapan memikul tanggungjawab sebagai

ayah, anak, dan menantu. Kemampuannya mencukupi ma’isyah barangkali belum

memadai, walaupun begitu mereka memiliki kesungguhan untuk memenuhinya

sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Yang demikian ini, insya-Allah lebih siap

untuk mengemban tanggungjawab besar di balik mitsaqan-ghalizha. Mudah-mudahan

Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepada mereka. Allahumma amin.

Situasi psikis yang berbeda-beda, juga jenjang kedewasaan yang tak sama,

melahirkan sikap yang beragam dalam menghadapi dorongan untuk mencari teman

hidup. Ada yang berkeinginan sekedar untuk melegitimasi keinginan bersebadan

dengan lawan jenis, tanpa harus jatuh ke dalam dosa. Tetapi, mereka menghendaki

untuk tidak tinggal satu rumah. Sebagian berkeinginan kuat untuk terikat secara resmi

melalui pernikahan yang sah di hadapan agama, negara, dan dalam pandangan

masyarakat, walaupun kondisi yang mereka hadapi tidak jauh berbeda dengan yang

——————————-

Kado Pernikahan 17

——————————

pertama. Mereka memilih ini karena di dalamnya ada kemaslahatan yang lebih besar

dan kedudukan wanita lebih mulia, karena agama menghendaki suami yang

memuliakan istrinya dengan seutama-utama kemuliaan yang mampu ia berikan.

Keutamaan ini terutama berkait dengan sikap dan perlakuan. Di sini, ada mujahadah.

Ada perjuangan besar yang insya-Allah mulia di hadapan Allah dan mempesona di

hati istri. Kelak, insya-Allah kita akan merasakan keindahannya, di dunia maupun di

akhirat.

Ada banyak mujahadah (perjuangan) pada masa-masa ini. Perjuangan untuk

menyiapkan sekaligus menambah bekal dalam mendampingi suami dan menyusui

anak dengan tenang di tengah malam. Perjuangan untuk menegakkan prasangka yang

baik (husnuzhan) kepada Allah. Pasti Ia menolong, sebagaimana Ia mempertemukan

Zulaikha sebagai istri Yusuf a.s. setelah bertahun-tahun Zulaikha berdoa karena tidak

kuat menahan sakitnya merindukan Yusuf yang dicintainya. Perjuangan untuk tetap

menjadi muslimah yang memiliki komitmen terhadap agamanya. Dan juga,

perjuangan untuk tetap mempertahankan busana muslimah beserta identitas

keislamannya ketika dilanda keraguan, sedang pada saat yang sama mereka yang

menanggalkan hijab juga mengalami masalah yang sama.

Apakah engkau mengira mereka yang berlepas diri, yang bergandengan tangan

dengan pemuda yang ia inginkan, tidak mengalami ketidakpastian? Tidak. Sama

sekali tidak. Insya-Allah engkau lebih tenang. Ketika saya sedang mengerjakan buku

ini, saya menerima berbagai surat. Salah satunya “mengeluhkan” masalah ini.

Seorang cewek mempunyai teman laki-laki. Selama ini keinginannya tak “terlalu

jauh”. Akan tetapi suatu ketika, teman laki-laki itu menginginkan hubungan suamiistri.

Cewek itu menangis terus. Ia bingung (ada saran?).

Zaman memang telah berubah. Gadis-gadis sekarang semakin lambat dewasa.

Padahal mereka mengalami menstruasi (haid) pada usia yang lebih dini dibandingkan

dengan wanita-wanita sebelum mereka. Para lelaki juga tidak banyak dipersiapkan

oleh keluarganya ataupun mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi dewasa

secara penuh ketika mereka telah melewati usia 20 tahun. Padahal, mereka

mengalami mimpi indah (ihtilam) pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan

generasi orangtua mereka. Sementara ihtilam seharusnya –begitu kalau kita

menengok fiqih– menjadi pertanda datangnya masa ‘aqil-baligh (akalnya sampai,

kedewasaan intelektual). Segera sesudah mengalami ihtilam (mimpi indah), mereka

seharusnya sudah siap untuk memikul taklif (pembebanan tanggung-jawab). Salah

satunya, membiayai hidupnya sendiri dan anak orang lain (jika sudah menikah) bagi

laki-laki, selambat-lambatnya pada usia 18 tahun.

Berbagai informasi yang diberikan melalui media massa, penataran, serta iklim

yang tumbuh dalam keluarga, juga banyak yang tidak mendorong mereka untuk siap

mencapai kedewasaan dalam arti yang utuh ketika mereka telah mencapai kemasakan

seksual (sexual maturation). Akibatnya, kedewasaan sekaligus tanggungjawab

mereka terlambat beberapa tahun dibanding kemasakan seksualnya. Apalagi banyak

di antara mereka yang tidak mempunyai bekal ilmu, orientasi, dan misi yang kuat

sebelum mereka mengalami kemasakan seksual. Keadaan ini, acapkali, menimbulkan

—————————-

Kado Pernikahan 18

—————————-

reaksi-reaksi impulsif terhadap lawan jenis. Ini menimbulkan beban psikis, meskipun

banyak di antara mereka yang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya.

Media massa juga kerap menyampaikan informasi yang timpang, searah, tidak

adil, dan kadang bahkan menyesatkan. Media massa menjadikan informasinya

sebagai alat eksploitasi bagi satu kepentingan tertentu (maaf, saya menggunakan kata

“tertentu”) terhadap pembacanya yang berada pada masa rawan ini. Alasan psikologis

dan medis sering digunakan, meskipun tidak sungguh-sungguh memiliki pijakan

ilmiah, sehingga para gadis dan pemuda berada dalam situasi ketakutan ketika akan

melangkah ke pernikahan yang tergolong dini tanpa tahu bagaimana mesti

menyikapinya. Variabel pengaruh seolah-olah hanya terletak pada faktor usia,

padahal usia tidak bisa mengindikasikan tingkat kedewasaan dan tanggungjawab

seseorang. Banyak yang sudah hampir jadi sarjana, usia sudah menginjak 25 tahun,

tetapi pola pikirnya masih sama dengan pola pikir anak SMA.

Saya sering tidak paham (mungkin karena saya tidak tergolong orang jenius)

dengan apa yang berlangsung di sekeliling. Menikah usia muda dikecam dalam

berbagai kesempatan (bahkan melalui jalur ilmiah), akan tetapi kondom dijual bebas

dengan harga murah. Sementara itu, ekspos sumber-sumber rangsang seksual pun

dibiarkan meningkat, terutama melalui TV dan tabloid-tabloid. Kampanye anti

pelecehan digelar habis-habisan, namun demikian pada saat yang sama wanita dipakai

sebagai alat untuk menarik perhatian di berbagai kesempatan resmi. Ironisnya,

kadang-kadang malah dilakukan oleh mereka yang menyerukan sikap anti-pelecehan

terhadap wanita.

Melalui engineering of consent (rekayasa persetujuan) diciptakan image (citra) —

sekaligus rasa takut– bahwa menikah muda hanya dilakukan oleh mereka yang tidak

memiliki intelektualitas tinggi. Menikah muda adalah tindakan orang yang

berpendidikan rendah. Sehingga mereka tidak memiliki kesiapan yang memadai

(coba, apa ukurannya sehingga disebut memadai) untuk menjadi istri dan ibu.

Sementara itu, pada saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi tidak pernah

menyiapkan mereka untuk mengerti dan mencintai tanggungjawab sebagai istri dan

ibu. Ironisnya, berlawanan dengan pernyataan sebelumnya, berkembang citra “untuk

apa berpendidikan tinggi-tinggi sampai jenjang perguruan tinggi kalau hanya untuk

mendidik anak?” Alhasil, mereka menjumpai suami, anak, dan rumahtangganya

sebagai “hanya”. “Hanya” bangunan yang disebut rumah. “Hanya”….

Jadi, ada yang perlu kita cermati dengan kecerdasan tinggi. Ada yang perlu kita

pikirkan di sini.

Sekarang pinangan telah datang. Jawaban atas pinangan itu sedang dinantikan.

Maka pertimbangkanlah matang-matang, dengan melihat berbagai kondisi yang ada

di sekeliling, serta kondisi yang ada di dalam keluarga dan diri sendiri. Ayah perlu

memikirkan kemaslahatan anak gadisnya, sebelum mengambil keputusan. Engkau

pun perlu mempertimbangkan pinangan itu.

—————————-

Kado Pernikahan 19

———————–

Catatan bagi Ayah

Rasulullah pernah bersabda, “Pukullah anak-anak karena meninggalkan sholat

pada usia tujuh tahun, pisahkan tempat tidurnya pada usia sembilan tahun, dan

kawinkanlah pada usia 17 tahun jika memungkinkan. Apabila perkawinan dilakukan,

maka suruhlah si anak duduk di hadapan bapaknya, kemudian katakanlah, ‘Mudahmudahan

Allah tidak menjadikan kamu dalam fitnah di dunia, tidak pula di akhirat’.”

Anak gadis sudah memungkinkan untuk dinikahkan kalau ia dipersiapkan untuk

memasuki masa dewasa sejak awal. Seorang gadis bahkan dapat memiliki kesiapan

dan kedewasaan lebih dini dibanding anak laki-laki. Wanita memang cenderung lebih

cepat matang dibanding laki-laki.

Dari Anas r.a., Rasulullah al-ma’shum bersabda, “Barangsiapa mempunyai anak

perempuan yang telah mencapai usia dua belas tahun, lalu ia tidak segera

mengawinkannya, kemudian anak perempuan tersebut melakukan suatu perbuatan

dosa, maka dosanya ditanggung oleh dia (ayahnya).” (HR. Baihaqi).

Pebuatan dosa. Perbuatan dosa apakah yang menyebabkan ayah ikut

menanggung dosanya? Wallahua’lam bishawab. Jika kita perhatikan, insya-Allah kita

akan mendapat pengetahuan bahwa perbuatan dosa yang seorang ayah ikut

menanggung dosanya bila tidak segera mengawinkan anak perempuannya adalah

dosa-dosa yang berkait dengan dorongan gharizah (naluri) untuk berdekat-dekat

dengan lawan jenis. Pada usia-usia yang rawan ini, gejolak mudah membakar dada.

Akan tetapi, apakah ia sudah memungkinkan untuk dikawinkan?

Saya tidak bisa menjawab. Anda yang lebih tahu siapa anak Anda. Anda yang

lebih tahu bagaimana Anda mempersiapkan anak Anda memasuki masa ‘aqil-baligh.

Apakah persiapan yang Anda berikan melalui pendidikan semenjak kecil telah

mengantarkannya menjadi wanita yang betul-betul mencapai ‘aqil-baligh, taklif

(dewasa dan bertanggungjawab) dan sekaligus telah memiliki keterampilan untuk

menasharufkan harta (manajemen anggaran) di rumah?

Sekarang ia sudah memasuki masa taklif. Jika ia belum terampil, insya-Allah

kelak akan memiliki keterampilan yang diperlukan. Sedang saat ini, yang diharapkan

adalah kepekaan ayah untuk cepat tanggap terhadap apa yang dirasakan oleh anak

gadisnya.

Ketika seorang laki-laki datang meminang, ada beberapa hal yang perlu

dipertimbangkan oleh seorang ayah.

Memperhatikan Agama

Pernah, ada orang bertanya kepada Al-Hasan r.a. mengenai calon suami putrinya.

Kemudian Al-Hasan r.a. menjawab, “Kamu harus memilih calon suami (putrimu)

yang taat beragama. Sebab, jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya.

Dan jika dia kurang menyukai (memarahinya), dia tidak akan menghinakannya.”

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah bersabda:

————————

Kado Pernikahan 20

———————–

“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai

(ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab,

jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan

berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.”

Kemudian ada yang bertanya,

“Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau

kekurangan-kekurangan)?”

Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali)

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka

nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-

Mazni).

Pada hadis ini –sampai-sampai Rasulullah Saw. mengulang jawaban tiga kali–

seorang ayah diperingatkan agar memperhatikan orang yang beragama dan berakhlak

bagus. Akhlak yang bagus adalah sebagian tanda-tanda bagusnya agama seseorang.

Tanda ini lebih kuat daripada tanda lainnya, misal pengetahuan agama dan

lingkungan. Dua hal yang disebut terakhir ini menjadi pertimbangan pendukung

mengenai agama dan akhlak orang yang berniat menjadi suami putri Anda.

Seorang ayah bisa mencari pengetahuan mengenai laki-laki yang meminang anak

gadisnya dengan seksama sebelum mengambil keputusan. Antara lain, ia dapat

menanyai orang yang dekat dengan calon menantunya. Ia juga bisa menanyakan

kepada orang-orang yang dapat dipercaya (tsiqah).

Sebelum membicarakan masalah lain, marilah kita renungkan peringatan

Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena

silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak

pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya.”

Meminta Izin Anak

Pernikahan berkaitan langsung dengan perasaan anak gadis yang insya-Allah

akan mendampingi suaminya seumur hidup. Dialah nanti yang akan merasakan

manis-indahnya pernikahan ataupun pahit-getirnya perpisahan, kalau ternyata cinta

tak bisa tumbuh juga. Oleh karena itu, seorang ayah perlu meminta izin kepada anak

gadisnya sebelum menikahkan. Islam menolak pemaksaan orangtua atas anak gadis

agar mau menikah dengan laki-laki pilihan orangtua, sedang ia sendiri tidak

menyukai. Pemaksaan dapat menjerumuskan anak kepada dosa besar. Minimal dosa

karena tidak taat pada suami, termasuk dalam melayani keinginan suami di tempat

tidur, karena tidak ada kehangatan cinta di hatinya. Padahal, penolakan istri untuk

melakukan hubungan intim termasuk perkara yang sangat dilaknat oleh agama.

Dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang hamba sahaya yang masih gadis datang

kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia melaporkan bahwa

dia dikawinkan oleh ayahnya, padahal dia tidak suka terhadap laki-laki pilihan

—————————

Kado Pernikahan 21

—————————

ayahnya itu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan

terhadapnya. Demikian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu

Daud, Ibnu Majah dan Adz-Dzaruquthni.

Dan dari ‘Aisyah, bahwa ada seorang remaja putri dikawinkan dengan seorang

laki-laki kemudian dia berkata, “Sesungguhnya ayah telah mengawinkanku dengan

anak saudaranya agar kehinaannya dapat terangkat karena aku. Sedangkan aku tidak

menyukainya.”

Kemudian ‘Aisyah berkata, “Duduklah”, sehingga Ra-sulullah shallallahu

‘alaihi wa sallam datang. Lalu aku mengabarkannya. Kemudian Rasulullah mengutus

seseorang kepada ayahnya untuk mengundangnya ke rumah Rasulullah shallallahu

‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah menyerahkan perkara itu terhadap sang gadis

tersebut. Lalu gadis itu berkata, “Ya Rasulullah, sebenarnya aku telah rela terhadap

apa yang telah diperbuat ayahku terhadapku, akan tetapi aku berkeinginan untuk

memberitahukan kepada wanita-wanita tentang sesuatu dalam masalah ini.” (HR

An-Nasa’i).

Maka, sebelum memberi jawaban kepada peminang, tanyakanlah kepada anak

gadis Anda. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang janda dikawinkan,

sehingga dia dimintai persetujuannya dan tidak pula seorang gadis hingga dia

dimintai persetujuannya.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah persetujuannya?”

Rasulullah menjawab, “Persetujuannya adalah pada saat dia diam.” (HR

Bukhari dan Muslim).

Al-Bukhari dan Muslim juga pernah meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata,

“Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita harus dimintai persetujuannya jika mereka

akan dikawinkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya”.

Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis jika dimintai persetujuannya,

kemudian dia diam, karena malu?” Rasulullah bersabda:

“Diamnya itu adalah persetujuannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syaikh Yusuf Qardhawi mengingatkan, seorang gadis kadang-kadang merasa

malu untuk menjelaskan tentang persetujuannya itu dan dia juga malu untuk

menampakkan bahwa dia sudah berkeinginan untuk melangsungkan perkawinan.

Sedangkan diamnya itu menunjukkan kebersihannya dari segala penyakit yang dapat

mencegahnya dari hubungan seksual, atau adanya sebab lain yang tidak baik untuk

melangsungkan pernikahan dengan laki-laki itu, di mana sebab-sebab itu tidak ada

seorang pun yang mengetahuinya, kecuali dia sendiri. Wallahu A’lam. Demikian

kutipan saya dari Ruang Lingkup Aktifitas Wanita Muslimah (Al-Kautsar, 1996).

Selain meminta izinnya, berikanlah kesempatan kepadanya untuk mengetahui

siapa calon suaminya, terutama jika calon suami itu pilihan Anda sedang anak gadis

Anda belum mengenalnya. Biarkanlah anak gadis Anda untuk menilai sendiri calon

————————-

Kado Pernikahan 22

————————-

suaminya, apakah ia menyukai atau tidak. Anda bisa memberikan informasi, memberi

keterangan seperlunya tentang si calon. Tetapi sebaiknya tidak banyak mempersuasi

(membujuk) dengan menampakkan yang baik-baik saja. Sebab persuasi dapat

menimbulkan harapan-harapan yang akan ia peroleh ketika akad nikah telah dilaksanakan.

Sehingga bisa jadi ia mengalami kekecewaan justru karena terlalu tingginya

harapan yang muncul lantaran persuasi Anda. Padahal, pada mulanya ia tak banyak

mengharapkan hal-hal yang tidak mendasar.

Sebagian gadis menikah dengan orang yang belum pernah dikenalnya sama

sekali dan baru melihat laki-laki yang menikahinya ketika akad nikah telah selesai,

yaitu saat pertama kali memasuki kamar pengantin. Mereka ridha dengan suaminya.

Tetapi ini tidak berlaku umum. Sehingga Anda tidak bisa mengambilnya sebagai

hukum yang Anda terapkan begitu saja kepada anak gadis Anda. Anda perlu bersikap

tengah-tengah dan memahami kebutuhan anak gadis Anda, kecuali jika dia telah ridha

dengan pilihan Anda tanpa mensyaratkan apa pun mengenai laki-laki yang akan

menjadi suaminya.

Seorang gadis yang tidak diberi kesempatan untuk mengetahui dan

mempertimbangkan calon suaminya, berhak untuk memutuskan hubungan

perkawinan apabila ia tidak rela terhadap suami pilihan ayahnya. Kesempatan

mengetahui ini meliputi hal-hal yang berkenaan dengan segi lahiriah maupun segisegi

yang lebih bersifat psikis dan agama dari si calon suami.

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan

hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang

diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS Al-Baqarah: 229).

Kasus gagalnya perkawinan karena istri belum mengetahui calon suaminya

pernah terjadi di masa Rasulullah. Ketika menikah, Hadiqah tidak pernah bertemu

dengan Tsabit bin Qais kecuali pada malam pengantin mereka. Sang istri sangat

terkejut dengan suami yang dijumpainya pada malam pengantin itu dan secara

spontan timbul keinginan untuk berpisah.

Hadiqah berkata kepada Rasulullah, “Tampaklah apa yang tidak saya ketahui

pada malam pengantin kami. Saya pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun

suami saya adalah laki-laki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling

jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusan pun yang saya temui pada dirinya. Saya

tidak mengingkari kebagusan akhlaknya dan agamanya, ya… Rasulullah, tetapi saya

takut menjadi kafir jika tak bercerai darinya. Saya takut jika terus-menerus maksiat

padanya karena ketidaktaatan saya pada suami, dan saya tahu itu menyalahi perintah

Allah Swt.”

Rasulullah Saw. memanggil Tsabit dan berkata kepadanya, “Temui istrimu,

Hadiqah dan ceraikan ia sebagaimana layaknya, biarkan mahar itu menjadi haknya.”

Kisah Hadiqah dan Tsabit bin Qais ini juga disampaikan oleh Imam Bukhari

dalam shahihnya. Sesungguhnya, kata Ibnu Abbas, istri Tsabit bin Qais telah

menghadap kepada Nabi Saw. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela

——————–

Kado Pernikahan 23

————————

akhlak dan agamanya, tetapi saya tidak mau kufur dalam Islam.” Maka Rasulullah

Saw. bersabda, “Maukah Anda mengembalikan kebun-kebunnya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda (kepada Tsabit), “Terimalah kebun itu, dan

talaklah istrimu itu satu kali.”

Ada hadis lain yang meriwayatkan kisah Tsabit bin Qais ini. “Amr bin Syu’aib

dari ayahnya, dari kakeknya r.a. dalam riwayat Ibnu Majah; Sesungguhnya Tsabit bin

Qais itu adalah orang yang buruk rupa dan bentuknya, dan istrinya berkata, “Kalau

saya tidak takut pada Allah, tentu saya ludahi muka suami saya itu apabila

mendatangi saya”. Dan dalam riwayat Ahmad dari hadis Sahal bin Abi Hasmah,

“Dan kejadian itu adalah permulaan khulu’ dalam Islam.”

Khulu’ merupakan hak istri untuk meminta cerai karena sebab tertentu yang

kuat.

Jadi, sebelum menikahkan anak gadis Anda dengan laki-laki yang meminangnya,

tanyakan dulu apakah ia setuju atau tidak. Berikan kesempatan padanya untuk

mengetahui calon suaminya agar lebih dapat mengekalkan hubungan kalau ia ternyata

rela dan menyukai. Ada pun kalau ia tidak menyukai, ini lebih baik daripada terlanjur

menikah. Kalau sudah terlanjur, silaturrahmi bisa rusak.

Meminta Pertimbangan Istri

“Berkonsultasilah terhadap wanita-wanita dalam masalah anak-anak

perempuan,” kata Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah

hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud. Dalam hadis ini

terdapat rawi yang majhul, tetapi banyak hadis yang maknanya senada dengan hadis

ini. Begitu Syaikh Yusuf Qardhawi memberi keterangan.

Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi memberikan beberapa catatan penting

dalam menyampaikan kesimpulan mengenai hadis-hadis tersebut.

Beliau mengatakan, “Berkonsultasilah dengan kaum ibu dalam masalah

perkawinan anak-anak perempuan mereka, bukan berarti bahwa mereka mempunyai

wewenang terhadap akad nikah tersebut. Akan tetapi dipandang dari segi kebaikan

dan perbaikan terhadap diri mereka dan dalam segi menggauli mereka dengan baik.

Dan karena upaya itu lebih dapat mengekalkan persahabatan dan akan dapat

menimbulkan rasa cinta kasih di antara anak-anak gadis mereka dengan sang suami.

Hal ini dapat terjadi jika akad nikah itu atas dasar kerelaan dari ibu-ibu mereka

dan sesuai dengan keinginan mereka. Dan jika akad pernikahan itu di luar kerelaan

ibu-ibu mereka, maka bisa jadi ibu-ibu mereka merongrong suami mereka. Dia juga

akan menimbulkan kerusakan terhadap hati anak gadisnya. Sedangkan anak-anak

perempuan, biasanya lebih cenderung terhadap ibu-ibu mereka dan akan lebih

menerima perkataan yang datangnya dari ibu-ibu mereka.

—————————-

Kado Pernikahan 24

—————————-

Pernikahan itu sangat sensitif.

Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal

pernikahan,

mudah membangkitkan perasaan yang kuat,

negatif maupun positif.

Dengan adanya permasalahan yang seperti ini, maka berkonsultasi dengan sang

ibu adalah sunnah hukumnya dalam masalah akad pernikahan anaknya. Wallahu

A’lam.”

Beliau juga pernah berkata, “Dan terkadang juga hal itu menjadi penting oleh

karena adanya alasan-alasan tertentu, selain apa yang telah kita sebutkan di atas.

Dan hal itu karena mungkin seorang wanita lebih mengetahui tentang masalahmasalah

khusus yang terdapat pada diri anak-anak perempuan, atau juga dapat

mengetahui tentang kejadian-kejadian yang rahasia, di mana (kalau) anak

perempuannya itu melangsungkan pernikahan dengan orang tersebut, maka hal itu

tidak akan berlangsung lama atau tidak akan memberikan kebaikan. Sedang alasanalasan

itu berada pada ibunya tersebut. Dan adanya penyakit dapat menggagalkan

terlaksananya hak-hak pernikahan. Pendapat ini adalah sesuai dengan sabda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jangan kamu kawinkan seorang gadis, kecuali dengan seizinnya. Sedangkan

persetujuannya adalah diamnya.”

Ketika bertemu Musa a.s., Syafura sangat terkesan oleh sikap dan perilakunya. Ia

tidak menunjukkan perasaannya kepada Musa a.s. karena rasa malu yang besar.

Tetapi ia menceritakan kepada ayahnya, Nabiyullah Syu’aib a.s. Kelak, Nabi Syu’aib

menikahkan putrinya dengan Musa a.s. yang di kemudian hari juga menjadi Nabi.

Putri Anda barangkali juga mempunyai perasaan-perasaan serupa. Ada seseorang

yang memiliki tempat khusus di hatinya. Ada laki-laki yang begitu berarti baginya,

meskipun ia tidak menunjukkan gelagat di hadapan Anda maupun di hadapan lakilaki

yang telah memunculkan kesan membekas dalam jiwanya. Ada halangan

kejiwaan yang membuatnya tidak berani menceritakan kepada Anda. Meski masih

ada rasa malu, kadang-kadang ia berani terbuka pada ibunya atau neneknya tentang

rahasia-rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Ia berani mengungkapkan bahwa hatinya

telah terpaut dengan seorang laki-laki, yang barangkali berbeda dengan laki-laki yang

sempat dipikirkan ayahnya untuk dijodohkan dengannya.

Dan jika laki-laki yang disukainya itu datang untuk mengawini anak perempuan

itu, kata Syaikh Yusuf Qardhawi, maka orang itulah yang akan didahulukan dan

diterima pinangannya. Sebagaimana yang diisyaratkan di dalam sebuah hadis shahih:

——————————

Kado Pernikahan 25

—————————–

Khat Arab

Belum pernah terlihat bagi dua orang yang bercinta seperti pernikahan.

Kuatnya ikatan perasaan antara dua hati, dapat kita baca pada kisah pernikahan

Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dengan Atikah binti Amr bin Nufail.

Abu Bakar pernah mengkhawatirkan anaknya sehingga khawatir kalau perasaan

anaknya yang begitu kuat terhadap istrinya, Atikah, akan mengalahkan pikiran dan

agamanya. Ia kemudian menyuruh Abdurrahman untuk menceraikan Atikah, tetapi

Abdurrahman tidak sanggup melakukan. Abu Bakar terus mendesak, sampai akhirnya

Abdurrahman tidak mampu menghadapi perintah ayahnya. Tetapi perceraian tidak

pernah bisa melemahkan ikatan perasaan dua orang yang diliputi kerinduan.

Perpisahan tidak mematikan perasaan Zulaikha kepada Yusuf dan tetap menantikan

perjumpaan dengan Yusuf, meskipun kecantikannya telah banyak dimakan usia.

Perceraian Abdurrahman juga demikian. Ia tidak bisa melupakan kelembutan dan

ketinggian akhlak Atikah. Ia mengadukan cekaman perasaannya kepada Allah dengan

bersyair:

“Demi Allah tidaklah aku melupakanmu

Walau matahari kan terbit meninggi

“Dan tidaklah terurai air mata merpati itu

kecuali berbagi hati

“Tidak pernah kudapatkan orang sepertiku

mentalak orang seperti dia,

Dan tidaklah orang seperti dia

Ditalak karena dosanya

“Dia berakhlak mulia, beragama

dan bernabikan Muhammad,

Berbudi pekerti tinggi

bersifat pemalu dan halus tutur katanya

Perpisahan tidak melemahkan ikatan perasaan. Ia justru semakin kuat dengan

disirami air mata. Melihat rintihan tangis anaknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak tega

hatinya. Kepada anaknya ia mengatakan, “Wahai anakku, rujuklah engkau kepadanya

kalau memang engkau tidak dapat melupakannya.”

Maka, rujuklah Abdurrahman kepada Atikah, istri yang sangat dicintainya.

Mereka hidup dalam rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan hingga

Abdurrahman mencapai syahid pada perang Tha’if. Konon, ketika mendengar kabar

syahidnya Abdurrahman, Atikah sangat sedih disebabkan dalamnya rasa cinta kepada

—————————

Kado Pernikahan 26

Abdurrahman. Tetapi kecintaannya terhadap Abdurrahman, tidak menghalanginya

untuk melepas Abdurrahman pergi berjihad. Inilah ketinggian Atikah. Wallahu A’lam

bishawab.

Ikatan perasaan demikian kuat. Anak gadis Anda barangkali telah terpaut hatinya

kepada seseorang yang ia rela terhadapnya. Ia berharap dapat menemani hidupnya

sebagai istri shalihah, sekalipun ia belum pernah bertegur sapa. Ia mempunyai

perasaan itu, mempunyai cita-cita tentang rumah tangga yang akan dibangunnya.

Sekali saat, barangkali ia menceritakan isi hatinya kepada neneknya, kepada ibunya

saat ia menemukan kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati, kepada saudara

perempuan yang lebih tua, atau kepada bibinya. Seringkali, seorang gadis

mempercayakan rahasia hatinya kepada mereka. Karena itu, bertanyalah kepada

mereka agar keputusan Anda lebih dekat kepada maslahat dan jauh dari madharat dan

mafsadah (kerusakan).

Musyawarah

Banyak hadis yang menunjukkan keutamaan musyawarah. Al-Qur’an juga

memberi perhatian kepada pentingnya musyawarah. Allah Swt berfirman, “Dan

bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah

membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS Ali Imran: 159).

Ada musyawarah. Kemudian, ada tawakal yang mengikuti. Yang disebut terakhir

ini seringkali tertinggal, tidak mengikuti hasil musyawarah.

Tak mudah memang. Karena itu, silakan Anda mencari sendiri pembahasan

mengenai tawakal ini.

Ada syarat-syarat musyawarah. Musyawarah dengan orang yang memenuhi

syarat, dapat memberi manfaat dan lebih dekat dengan maslahat dan keselamatan

akhirat, bahkan keselamatan dunia. Tetapi musyawarah dengan orang yang tidak

memenuhi syarat, justru lebih dekat kepada madharat dan mafsadat. Imam Abu

‘Abdillah mengingatkan, musyawarah dengan orang yang tidak memenuhi syarat

lebih besar bahayanya dibanding manfaatnya.

Pembahasan lebih lanjut tentang musyawarah, silakan Anda cari di buku lain.

Saya kira, cukuplah pembahasan saya tentang musyawarah. Semoga bermanfaat.

Catatan bagi Wanita yang Dipinang

“Suatu hari yang lain,” begitu cerita seorang akhwat dalam suratnya, “Allah

mempertemukan saya dengan seorang akhwat yang sedih dengan setumpuk

masalahnya. Dengan sedih ia berkata, ‘Alangkah enaknya kalau saat ini ada suami…’

Mengapa? Dan bagaimana suami dapat meringankan kesedihannya?”

“Mengapa suami? Karena adanya keyakinan bahwa suami dapat membimbing

untuk mencintai Allah. Dan karena pendekatan suami lebih dari hati ke hati, dengan

kasih sayang, maka lebih menyentuh untuk dilakoni.”

—————————-

Kado Pernikahan 27

———————–

“Masalahnya, bagaimana kriteria suami yang seperti itu?”

Saya kadang-kadang menerima pertanyaan tentang bagaimana memilih suami

yang baik, suami yang dapat membimbing istri dalam menjalani kehidupan bersama

sebagai satu keluarga yang saling mencintai. Pada suatu seminar, pertanyaan

mengenai ini berkembang ke arah yang lebih mendasar lagi. Pertanyaan itu dikaitkan

dengan janji Allah bahwa wanita yang baik adalah bagi laki-laki yang baik dan begitu

pula sebaliknya.

Allah Swt berfirman:

Khat Arab

“Dan perempuan-perempuan yang keji adalah diperuntukkan bagi laki-laki

yang keji, dan laki-laki yang keji juga diperuntukkan bagi perempuan yang keji,

sedangkan perempuan-perempuan yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik

dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik…”

(QS An-Nur:26).

Pembahasan tentang ini memerlukan ruang yang khusus. Pada kesempatan ini

insya-Allah saya membahas sedikit saja sejauh yang saya mampu. Dan sesungguhnya,

pengetahuan yang haq hanya di sisi Allah. Wallahul Musta’an.

Sekarang, ketika pinangan telah datang, apa yang perlu engkau perhatikan

sebagai bahan pertimbangan.

Agama Calon Suami

Baik laki-laki maupun perempuan, diperingatkan agar memilih pendamping

hidup atas dasar agama calonnya. Sebagian orang menempatkan peringatan ini dalam

derajat yang paling ringan. Asal seagama, dianggap telah memenuhi ketentuan untuk

memilih berdasarkan agama calonnya. Sebagian orang bertanya, “Kenapa agama?”

“Kadang-kadang, orang yang agamanya baik memperlakukan istri dengan cara

yang buruk. Sikapnya kepada orang lain juga tidak menyenangkan. Padahal, ia rajin

ke masjid, shalat, puasa, dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Tetapi,

mereka tidak memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik.”

“Sebaliknya, orang-orang yang tidak begitu mengenal agama, sikapnya kepada

istri justru sangat baik. Perhatiannya kepada istri, besar sekali. Kadang mereka malah

bisa menjadi sahabat yang enak diajak bicara oleh istri dan anak-anaknya.”

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan beragama? Apakah mereka yang

lebih utama agamanya adalah mereka yang luas pengetahuan agamanya? Jika ini yang

dimaksud, sesungguhnya para orientalis memiliki pengetahuan agama yang lebih luas

daripada kebanyakan kita saat ini. Penulis kamus bahasa Arab yang menjadi

pegangan standar sekarang, Al-Munjid, adalah Louis Ma’luf, seorang orientalis.

Kado Pernikahan 28

Kalau begitu, bagaimana menentukan ukuran bahwa calon suami yang datang

meminang termasuk laki-laki yang beragama? Wallahu A’lam bishawab. Agama

meliputi tauhid yang merupakan intinya dan syari’at sebagai aturan-aturan baku yang

lebih bersifat zhahir. Tauhid hidup dalam iman. Iman adalah perkara qalbiyyah

(rahasia hati). Orang tidak dapat melihat derajat iman seseorang. Orang tidak bisa

menilai aqidah-qalbiyyah (urusan keyakinan dalam hati) orang lain.

Tetapi, keyakinan hati mempengaruhi sikap dan perilaku. Keagamaan seeorang

insya-Allah dapat dilihat melalui amal perbuatannya. Ada berbagai petunjuk As-

Sunnah yang dapat dipakai untuk “menerka” agama dari laki-laki yang datang

meminang Anda.

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah

yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Dalam hadis lain yang bersumber dari ‘Aisyah r.a., dari Nabi dikatakan,

“Sesungguhnya kelembutan tidak menghinggapi sesuatu kecuali

memperindahnya dan tiada dicabut dari sesuatu melainkan memperburuknya.”

(HR. Muslim).

Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat dan

kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit.” (HR Thabrani dengan

sanad baik).

Masih banyak hadis yang menunjukkan tanda-tanda keimanan melalui sikap,

perilaku dan ketinggian moral. Tanda-tanda ini yang dapat engkau perhatikan ketika

seorang pemuda meminangmu. Ada tanda lain yang dapat engkau perhatikan,

terutama berkait dengan tanggungjawabnya kelak sebagai kepala rumah keluarga.

Misal, bagaimana sikapnya terhadap upaya mencari nafkah pada saat ini, sedang ia

masih menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada sub judul Kemandirian

Ekonomi.

Seorang ulama mengatakan bahwa, tidak mungkin mengetahui keberagamaan

seseorang melalui shalat dan puasa serta sebagian ritual agama. Keimanan dalam

beragama, dapat diketahui melalui aspek-aspek akhlak, penjagaan hak-hak orang lain,

dan sikap menghindarkan orang lain dari kezaliman-kezaliman dirinya. Adakalanya

ketika seseorang berpuasa, sangat takut kemasukan air setetes sehingga tidak berani

berkumur. Tetapi ia tidak takut melanggar hak-hak orang lain. Begitu KH.

Abdurrahman Wahid pernah mencontohkan.

Peringatan Imam Abu ‘Abdillah dapat Anda pertimbangkan ketika menilai

agama calon suami Anda. Beliau pernah berkata, “Janganlah kalian tertipu dengan

shalat mereka dan puasa mereka. Sesungguhnya mungkin ada seseorang yang

mengerjakan shalat dan puasa sampai-sampai seandainya ia meninggalkannya, ia

merasa takut. Tetapi, amatilah mereka dalam kebenaran bicara dan penunaian

amanat.”

—————————

Kado Pernikahan 29

—————————

Ada contoh yang ekstrem tentang masalah ini. Abu Said Al-Khudri, salah

seorang sahabat terkenal, mengatakan bahwa Abu Bakar pernah bercerita di hadapan

Nabi. Saat itu Abu Bakar menuturkan pengalamannya ketika melintasi padang pasir

dan melihat seorang lelaki berwajah tampan sedang melakukan shalat dengan

khusyuk.

“Pergi dan bunuhlah orang itu,” tukas Nabi.

Abu Bakar segera pergi menemukan lelaki yang itu masih dalam keadaan seperti

semula, shalat dengan khusyuk. Abu Bakar jadi ragu untuk membunuhnya. Akhirnya

ia kembali.

Nabi kemudian memanggil Umar bin Khaththab.

“Pergilah ke sana dan bunuhlah lelaki itu!” perintah Nabi kepada Umar.

Umar pun segera pergi ke sana. Umar melihat lelaki itu sedang larut dalam

ibadah. Umar tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia pun kembali menghadap

Nabi.

“Wahai Nabi, yang aku lihat adalah lelaki yang sedang shalat dengan sangat

khusyuk. Aku tidak tega membunuhnya,” ujar Umar.

Nabi akhirnya menyuruh Ali untuk membunuhnya.

Ali segera pergi ke sana, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ali kembali

menghadap Nabi, lalu memberitahukan hal itu kepada beliau.

Nabi berkata, “Orang itu dan kawan-kawannya membawa Al-Qur’an hanya

sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari

busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka

bumi.” (Shahih Muslim).

Ketika mendapatkan pinangan, engkau juga bisa memperhatikan tanda-tanda

membekasnya agama pada diri calon suami berkait dengan kewajiban-kewajibannya

terhadapmu kelak.

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hak istri, beliau bersabda:

“Memberikan makanan kepadanya apabila engkau makan, memberikan pakaian

apabila engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mengatakan wajah

engkau buruk, dan jangan menghukum (tidak menanyainya) kecuali di dalam rumah,

yakni jangan memindahkannya ke rumah lain kemudian tidak ditanyainya di dalam

rumah tersebut.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al-

Hakim).

Penjelasan Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi ketika

menjelaskan surat ‘Ali Imran ayat 159-160, menarik untuk kita simak. Asbabun nuzul

(sebab turunnya) ayat ini sebenarnya sama dengan ayat-ayat sebelumnya surat ini,

yaitu berkenaan dengan perang Uhud. Tetapi, kali ini kita akan mengambil pelajaran

dari Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi untuk mengetahui

Kado Pernikahan 30

keberagamaan calon suami, orang yang akan memimpinmu jika engkau

menerimanya.

Kata Al-Fakhurrazi, “Kalau kita belum paham perbedaan antara fazhzhan dan

ghalizhal-qalbi, perhatikanlah contoh ini. Mungkin ada orang yang akhlaknya tidak

jelek. Tidak pernah mengganggu orang lain. Lidahnya tidak pernah menyakiti orang

lain. Hanya saja, dalam hatinya tidak pernah ada rasa kasihan kepada orang lain.

Orang ini tidak kasar, namun dalam hatinya tidak ada rasa kasih-sayang. Ia tidak

fazhzhan, tetapi ghalizhal qalbi. Kedua sifat ini tidak boleh menempel pada diri

seorang pemimpin. Dia tidak boleh berperilaku yang menganggu orang lain dan juga

tidak boleh mempunyai hati yang keras. Karena itu, “Sekiranya kamu ini

bertingkahlaku kasar dan hati kamu keras, maka orang-orang itu akan lari darimu.

Seorang yang beragama, tidak bersifat fazhzhan. Juga tidak ghalizhal qalbi. Jika

dua sifat ini tidak ada pada dirinya, insya-Allah dia akan memiliki akhlak yang lemah

lembut. Meskipun begitu, ada perbedaan yang besar sekali antara sifat lemah lembut

dengan menampakkan kelembutan. Mengenai hal ini, hatimu yang lebih tahu.

Wallahu A’lam bishawab.

Insya-Allah, engkau juga bisa melihatnya ketika meminang. Kalau ia

meminangmu dalam rangka berpoligami, engkau dapat menilai alasannya dari

alasannya berpoligami, sikapnya terhadap istri dan keseimbangannya antara harapan

terhadapmu dan sikapnya terhadap istrinya terdahulu. Jika ia berpoligami karena

menurutnya istri terdahulu tidak memiliki akhlak yang baik sebagai istri, engkau

dapat menilainya dari bagaimana ia mengungkapkan hal itu kepadamu. Sebagian di

antara caranya menceritakan, merupakan tanda apakah ia akan menjaga rahasiamu

ataukah menunjukkan tidak ada rasa cemburu di hatinya kalau rahasia istrinya

diketahui orang lain.

Tanda-tanda keberagamaan yang bersifat akhlaqi insya-Allah lebih utama,

termasuk di dalamnya sikap dan semangatnya terhadap agama. Seorang yang

bersemangat dan memiliki sikap yang baik, insya-Allah lebih mudah menyerap ilmuilmu

agama yang belum ia punyai.

Akhir-akhir ini, sebagian orang telah menyempitkan batasan agama kepada yang

dianggap sefikrah saja. Atau bahkan lebih sempit lagi se-harakah atau se-halaqah.

Padahal, kesamaan harakah atau halaqah tidak menandakan tingkat kematangan

dalam beragama. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan. Saya sempat khawatir,

pola interaksi pada sebagian kelompok cenderung mengarah kepada kerahiban.

Kemandirian Ekonomi

Seorang laki-laki seharusnya telah mampu membiayai hidupnya sendiri sejak

memasuki masa taklif, yaitu usia 15 tahun menurut sistem penanggalan qamariyyah

atau lunar system. Selambat-lambatnya usia 18 tahun, seharusnya ia sudah berusaha

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan hasil keringatnya sendiri, walaupun

orangtua masih mampu membiayai dan sekaligus masih mau membiayai.

Kado Pernikahan 31

Ketika menikah, ia mempunyai kewajiban untuk menafkahi istrinya, termasuk di

dalamnya makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal dengan cara yang baik. Setelah

menikah, orangtua tidak mempunyai kewajiban memberi nafkah terhadap anak

perempuannya. Kebutuhan ekonomi seorang wanita menjadi tanggungan suami.

Adapun kalau orangtua memberi, itu bersifat shadaqah. Tidak wajib.

Tetapi, marilah kita simak hadis berikut. Rasulullah Saw. bersabda, “Sedekah

tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan

sempurna.” (HR Tirmidzi).

Karena itu, seorang laki-laki hendaknya berusaha mandiri. Apalagi ketika ia

telah mempunyai niat untuk menikah, bahkan telah meminang. Berusaha untuk

memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan keluarga adalah suatu kehormatan,

sehingga seseorang lebih bisa menegakkan kepala ketika ada sesuatu yang harus

disikapi. Ketergantungan secara ekonomi kepada keluarga, bisa melahirkan tekanan

psikis dan konflik-konflik yang pelik manakala seseorang telah menikah.

Kemandirian ini perlu saya bahas di sini mengingat pentingnya masalah.

Sebagian laki-laki berharap menikah, akan tetapi hendak menggantungkan kebutuhan

ekonominya kepada keluarga. Di antara mereka bahkan ada yang bersikap agak apatis

terhadap usaha mencari sendiri penghasilan yang halal, sebelum menyelesaikan

pendidikan di perguruan tinggi. Ada pikiran untuk tetap meminta kiriman orangtua,

dan mengharapkan agar orangtua istrinya juga tetap mengirimkan biaya hidup setiap

bulannya.

Sikap ini melemahkan keberanian untuk bertanggungjawab terhadap istri yang

dinikahinya. Tanggung jawab tidak hanya berkait dengan kewajiban untuk memenuhi

kebutuhan ekonomi, melainkan mencakup pula berbagai tanggung jawab lain yang

juga bersifat penting dan mendasar bagi kehidupan bersama dalam rumah tangga.

Sikap ini potensial untuk menimbulkan konflik, terutama konflik psikis bagi istri.

Harga diri dan rasa percaya diri sebagai keluarga sulit untuk ditegakkan. Dengan

demikian ketergantungan secara ekonomi melahirkan ketidakberdayaan pada aspekaspek

lain yang seharusnya dibangun berdua dalam rumah-tangga yang mesra.

Mereka mempunyai posisi yang lemah di hadapan orangtua, mertua, saudara, kerabat

lain, dan bahkan mereka lemah di hadapan dirinya sendiri. Kepercayaan istri terhadap

integritas pribadi suami juga kurang bisa terbangun.

Dampak dari keadaan ini sangat luas, khususnya terhadap pembentukan orientasi

keluarga dan kesiapannya untuk memberikan pendidikan kepada anak menurut apa

yang dipandang maslahat dan ideal. Kurang terbangunnya rasa percaya diri sekaligus

harga diri sebagai keluarga, mempengaruhi citra mereka tentang keluarga mereka

sendiri. Ini mempengaruhi mereka dalam memberi pengasuhan kepada anak, sehingga

bisa melahirkan pola-pola sikap yang kurang sesuai dalam mengasuh anak. Sejak dari

child-abuse (kekejaman terhadap anak), pengabaian anak sampai ketidakpekaan

orangtua terhadap kebutuhan psikis anak. Kalau ditarik lagi, akan terdapat rentetan

dampak psikis yang lain.

——————————-

Kado Pernikahan 32

——————————

Lalu, bagaimana kalau orangtua berinisiatif untuk tetap membiayai anaknya

masing-masing agar kuliahnya dapat diselesaikan dengan baik? Tidak masalah dan

bahkan baik, sejauh suami tetap mempunyai keinginan untuk tidak menggantungkan

diri sepenuhnya kepada kiriman orangtua. Sekalipun kenyataannya, hampir seratus

persen masih tetap berasal dari orangtua masing-masing. Tetapi niat yang kuat untuk

tidak menggantungkan sepenuhnya, merupakan bentuk adanya tanggung jawab. Inilah

yang paling penting.

Rasulullah Saw. bersabda, “Terlaknatlah orang yang membebankan semua

kebutuhannya kepada orang lain.”

Terkadang, inisiatif menikah berasal dari orangtua demi menyelamatkan anaknya

dari kekejaman maksiat. Mereka menawarkan untuk tetap membiayai kuliah sampai

selesai sekaligus memberi biaya hidup. Ini adalah sikap yang baik dan terpuji. Insya-

Allah, kelak mereka akan menjumpai upayanya sebagai kemuliaan di akhirat.

Allahumma amin.

Tetapi, kesediaan orangtua tertentu –ada yang bahkan mengajukan inisiatif–

untuk membiayai keluarga yang baru dibangun oleh anak mereka, tidak bisa menjadi

ukuran agar orangtuanya juga memberi perlakuan yang sama terhadap keluarganya.

Kalau pun orangtua ternyata menjaminkan biaya hidup, mestinya ia juga tetap

memiliki keinginan yang kuat untuk mencari nafkah yang halal dan thayyib agar yang

masuk ke perut istri, kelak janin yang dikandung istrinya hingga saatnya lahir, adalah

harta yang halal dan utama.

Islam menunjukkan sikap yang sangat menghargai kesungguhan seorang pemuda

memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri. Rasulullah Saww. bersabda:

“Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki)

yang halal.”

Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat.”

Pada hadis yang lain, Rasulullah Saww. bersabda, “Tidak seorang pun makan

makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya

(sendiri).” (HR Bukhari).

Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya

dengan orang yang memungut bara api.” (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam

shahihnya).

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa

Rasulullah Saw. bersabda, “Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di

antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong

daging.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw. juga menegaskan:

————————

Kado Pernikahan 33

————————

“Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki

yang halal, niscaya diampuni segala dosanya.”

Ketika seseorang telah diampuni segala dosanya, maka Allah akan mencurahkan

rahmat-Nya. Ia menjadi penjaga dan pelindung. Dan Allah adalah sebaik-baik

pelindung. Kalau Allah yang memberi penjagaan, insya-Allah kelak akan lahir dari

rahim istri anak-anak yang takwa lagi suci sebagaimana do’a suami ketika pertama

kali memegang kening istrinya. Insya-Allah mereka akan menjadi anak yang memberi

bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Sedang di akhirat mereka

akan menjadi penolong bagi orangtuanya selagi orangtuanya tetap beriman, meski

derajat amalnya tidak sebanding dengan derajat amal anaknya. Nanti, simaklah Ar-

Ra’d ayat 23.

Oleh karena itu, ketika datang pinangan, perhatikan apakah calon suami Anda

telah mandiri. Kalau tidak, apakah calon suami Anda selama ini telah berusaha

mandiri dan mempunyai iktikad untuk mandiri.

Barangkali ia belum mempunyai penghasilan yang memadai. Tetapi pilihan

sikapnya untuk mandiri, insya-Allah menjadi petunjuk tentang kesiapannya memikul

tanggung jawab sebagai suami dan kelak sebagai ayah. Seorang suami yang

bertanggung jawab lebih berarti dan lebih dekat dengan keselamatan dunia-akhirat

serta kemesraan keluarga. Insya-Allah, kehadiran Anda kelak sebagai istri,

memudahkan pertolongan Allah terhadap datangnya rezeki yang mencukupi

kebutuhan-kebutuhan keluarga. Mencukupi kebutuhannya yang besarnya barangkali

tak terbayangkan dapat dipenuhinya ketika calon suami Anda belum menikah seperti

sekarang ini.

Allah akan menolong. Insya-Allah.

Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini.

Rasulullah Saw. bersabda, “Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam

kehidupan berkeluarga).” (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Tiga orang yang akan selalu

diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan

agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang

menikah demi menjaga kehormatan dirinya.” (HR Thabrani).

Dalam hadis lain dengan derajat shahih, Rasulullah Saww. bersabda:

“Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak

mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah

dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang orang berjihad di jalan

Allah.” (HR Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim dan Daruquthni).

Di dalam Al-Qur’anul Karim, Allah Swt. telah berfirman, “Dan kawinkanlah

orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari

hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

————————-

Kado Pernikahan 34

———————–

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (QS An-

Nur:32).

Berkenaan dengan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, “Taatlah kepada

Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu yaitu perkawinan, maka Allah akan

melestarikan janji-Nya kepadamu yaitu kekayaan. Allah telah berfirman; ‘jika mereka

miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya’“. (Dikeluarkan oleh

Ibnu Abi Hatim, dari Ad-Dur Al-Mantsur).

Ada perkataan dari Umar bin Khaththab yang dapat Anda renungkan. Beliau

berkata, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan

mengkaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.”

Dan Umar pun menganjurkan, “Perbanyaklah anak, karena kalian tidak tahu

dari anak yang mana kalian mendapatkan rizki.”

Akhirnya, marilah kita menengok sebuah hadis Nabi. Luruskanlah niat dan

tumbuhkan keyakinan. Mudah-mudahan dengan jernihnya pikiran dan bersihnya hati

ketika mempertimbangkan pinangan seorang pemuda yang akhlaknya tidak engkau

ragukan, sedangkan kemampuannya memenuhi ma’isyah saat ini masih belum mapan,

mendekatkan pada pertolongan-Nya.

Mari kita simak hadis ini, mudah-mudahan Allah memasukkan keyakinan dan

husnuzhan kepada-Nya.

Rasulullah Muhammad Saw. diriwayatkan berkata,

“Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya

Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah

keluhuran mereka.”

Allah Maha Luas Pertolongan-Nya. Maha Luas.

Ada Ladang Amal Shalih

Pernikahan adalah keagungan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Di

dalamnya ada keindahan dan ketenteraman. Di dalamnya ada rasa cinta kepada

kekasih yang menemukan tamannya. Di dalamnya juga ada ladang amal shalih.

Jodoh ada di tangan Tuhan. Kadang-kadang seorang wanita mendapatkan

pendamping yang sekilas menurut pandangan mata zhahir manusia, tidak sepadan

ilmu maupun ibadahnya. Wanitanya sangat khusyuk dalam beribadah, kuat

menegakkan shalat malam –barangkali seperti Rabi’ah Asy-Syamiyah– dan tinggi

ilmu agamanya. Sedangkan laki-laki yang menikahinya, ternyata tidak sebanding

dalam hal ilmu maupun ibadah.

Sebaliknya juga bisa terjadi. Laki-lakinya sangat luas pengetahuannya mengenai

kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu agama. Bekas shalatnya tampak di kening. Tetapi

istrinya sekilas tidak mencapai kedudukan yang sederajat karena ilmu dan ibadahnya

yang kurang.

————————–

Kado Pernikahan 35

————————-

Ada pertanyaan, mengapa demikian? Jawab saya sederhana, wallahu a’lam

bishawab. Allah Maha Bijaksana. Ia mengetahui kebaikan-kebaikan besar yang tidak

nampak dalam penglihatan mata akal kita. Sebagian dari pernikahan semacam itu

adalah ujian, kecuali jika mereka memang memilih bukan atas dasar agama. Mereka

menikahi laki-laki atau wanita yang tidak sepadan karena mengejar kemuliaan, harta,

atau martabat. Tentang ini Rasulullah telah memperingatkan agar kita tidak

terjerumus ke dalamnya.

Tetapi, adakalanya pernikahan semacam ini berlangsung tidak karena dorongandorongan

rendah seperti itu. Pernikahan yang sepintas tidak seimbang itu, membuka

ladang amal shalih yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menikah.

Tugas suami memang memberi pendidikan dan pengarahan kepada istri. Tetapi ketika

istri mempunyai pengetahuan agama yang lebih banyak, dia dapat mengajarkan

kepada suaminya apa-apa yang belum diketahui suaminya, dengan niat berbakti

kepada suami dalam rangka mencari ridha Allah. Insya-Allah, pada pernikahan yang

semacam ini Allah melimpahkan barakah dan kelak memberikan keturunan yang

memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.

Seorang istri yang mengajarkan beberapa pengetahuan agama kepada suaminya,

perlu berhati-hati agar tidak terjatuh kepada sikap meninggikan diri di hadapan suami.

Sehingga ia tidak mendengarkan kata-kata suaminya dan tidak menaati. Juga, seorang

wanita shalihah perlu menjaga diri benar-benar agar sikapnya tidak menjauhkan

suami dari ibunya sedemikian sehingga si suami lebih mendengar kata-kata istrinya

dan mengabaikan nasehat ibunya.

Seorang suami yang memiliki ilmu agama yang lebih tinggi dari istri, dapat

menjadi pegangan bagi istri untuk bertanya hal-hal yang tidak diketahuinya. Suami

yang demikian ini perlu memiliki sifat yang penuh kasih-sayang, membimbing dan

ridha ketika mendidik dan mengarahkan istrinya. Mudah-mudahan istri dapat belajar

kepada suaminya bagaimana memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anakanak

yang lahir dari rahimnya, kelak ketika Allah telah menjadikan dia merelakan

rasa sakitnya untuk melahirkan.

Setiap ilmu yang sampai kepada manusia dan diamalkan, maka Allah

mengalirkan pahala kepada yang menyampaikan tanpa mengurangi pahala yang

melaksanakan sedikit pun. Kalau amalan suami yang diridhai Allah berawal dari ilmu

yang disampaikan istri, maka baginya pahala sebanyak yang dilakukan oleh suami

tanpa terkurangi. Demikian juga sebaliknya, istri yang mengerjakan kebajikan setelah

mendapatkan pendidikan dari suaminya, maka Allah akan mencatat kebaikan yang

sama. Insya-Allah, di sinilah ilmu akan barakah sampai anak-cucu.

Kalau suami-istri itu adalah ahli ibadah, insya-Allah mereka dapat saling

membantu dalam ketakwaan. Kalau istri sudah menjadikan shalat malam sebagai

perhiasan hidupnya, sedangkan suami masih belum terbiasa, istri dapat membiasakan

suaminya untuk mulai menegakkan shalat malam. Demikian pula bagi seorang suami,

ia dapat membimbing istri untuk melakukan shalat malam di rumah. Adapun kalau

keduanya belum terbiasa untuk shalat malam, mereka dapat saling membantu.

Kado Pernikahan 36

Ada banyak hadis yang dapat kita renungkan, misalnya hadis yang diriwayatkan

oleh Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya serta al-Hakim, bahwa

Rasulu-llah bersabda, “Barangsiapa bangun malam dan membangunkan istrinya

kemudian keduanya shalat dua raka’at –Nasa’i menambahkan, berjama’ah— maka

keduanya ditulis di antara orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang

banyak berzikir”. (Al-Hakim berkata: shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim.

Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis ini shahih).

Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada bab Keindahan Yang

Lebih Besar, di bagian dua jendela kedua buku ini. Saat ini, yang penting adalah

memeriksa sikap calon suami yang datang meminang Anda. Sikap dan semangat yang

baik, insya-Allah lebih dapat mengantarkan suami-istri kepada jalan kebaikan. Betapa

banyak orang yang mempunyai pengetahuan luas, tetapi kurang memiliki keyakinan.

Jadi, inilah jawaban saya atas pertanyaan sebagian akhwat mengenai (calon)

suami yang ilmu agamanya kurang atau suami yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi.

Di luar itu, saya ingin menambahkan. Kita tidak bisa mengukur tinggi tidaknya

derajat ketakwaan seseorang. Ada kalanya seseorang mencapai derajat yang tinggi

bukan karena banyaknya ibadah yang dilakukan maupun luasnya pengetahuan yang

dimiliki. Ia mencapai derajat yang lebih tinggi karena kejujurannya dalam berdagang

maupun hati yang tidak pernah memiliki prasangka buruk kepada saudaranya sesama

muslim, misalnya. Allahu A’lam bishawab wallahul musta’an.

Nikah dan Menuntut Ilmu

Islam memandang pernikahan sebagai kemuliaan yang sangat tinggi derajatnya.

Allah menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat

berat). Hanya tiga kali istilah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, dua lainnya berkenaan

dengan tauhid. Sedang tauhid adalah inti agama.

Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah. Demikian tingginya kedudukan

pernikahan dalam Islam, sehingga menikah merupakan jalan penyempurnaan separuh

agama. Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba telah berkeluarga,

berarti dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Maka takutlah kepada

Allah terhadap separuh yang lainnya.” (HR Ath-Thabrani).

Islam juga meletakkan penghormatan yang sangat tinggi terhadap ilmu dan orang

yang menuntutnya. Banyak sekali hadis shahih maupun hasan yang menunjukkan

keutamaan menuntut ilmu. Dalam surat Al-Mujadilah, Allah Swt. telah berfirman,

“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu

beberapa derajat.”

Shafwan bin ‘Assal al-Muradi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah

bersabda, “Selamat datang kepada penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu

dikitari oleh para malaikat dengan sayap-sayapnya kemudian sebagian mereka

menaiki sebagian yang lain hingga mencapai langit dunia karena kecintaan mereka

kepada apa yang ia tuntut.” (HR Ahmad dan Thabrani).

Kado Pernikahan 37

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim,” kata Rasulullah Saw. dalam

hadis shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Menuntut ilmu wajib

atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga masuk ke liang

lahat. Menikah juga diarahkan untuk tetap utuh dalam keluarga yang sakinah

mawaddah warahmah sampai kematian menjemput mereka. Mudah-mudahan

keduanya akan mendapati pernikahan sebagai jalan yang diridhai Allah dan

mengantarkan kepada keselamatan dari pedihnya siksa api neraka.

Pernikahan dan menuntut ilmu diharapkan untuk seumur hidup. Maka mestinya

keduanya berjalan seiring. Menuntut ilmu seharusnya lebih memberikan kesiapan dan

bekal bagi penuntutnya untuk menikah, serta menegakkan kehangatan keluarga.

Menuntut ilmu seharusnya mendorong seseorang untuk lebih bersemangat menikah,

dan lebih yakin terhadap janji Allah kepada orang yang menikah demi

menyelamatkan kehormatannya dari lawan jenis yang masih belum halal. Sementara

menikah, seharusnya membuat orang lebih matang dalam berilmu. Seharusnya, ….ya

seharusnya…!

Seharusnya, pernikahan dan mencari ilmu bisa berjalan beriringan. Tidak saling

mengacaukan. Insya-Allah, pernikahan tidak menjadikan orang tidak bisa menuntut

ilmu. Kurangnya gairah menuntut ilmu, bukanlah karena melakukan pernikahan.

Rasanya, agak mustahil Allah menyerukan dua hal yang sama-sama mulia, tetapi

sifatnya justru saling bertentangan (Mudah-mudahan anggapan saya ini tidak salah).

Kalau kita mau lebih jujur sedikit saja, insya-Allah kita akan mendapati bahwa

masalahnya bukan terletak pada status pernikahannya. Sesekali tengoklah rumah kost

mahasiswa di Yogya. Anda akan menemukan jam Belajar Masyarakat, Pukul 19.00-

21.00. Tapi, ini bukan jam belajar mahasiswa, sebab ujian masih jauh. Padahal

mereka hidup sejahtera dengan shadaqah tetap dari orangtua.

Dengan demikian, mudah-mudahan keinginan mencari ilmu tidak membuat

Anda mempersulit pernikahan. Pertimbangkanlah masak-masak madharat dan

mafsadahnya jika Anda berat untuk menerima pinangan semata-mata karena ingin

tetap menuntut ilmu, sedangkan Anda telah memiliki kesiapan dan mempunyai bekal

yang cukup. Saya khawatir, menunda-nunda pernikahan karena alasan ini sementara

mental telah siap, justru melahirkan madharat. Antara lain kompleks psikis yang

berat.

Sekali saat, luangkanlah waktu untuk merenungkan masalah ini sejenak.

Pikirkanlah secara jernih. Apalagi pada masa-masa yang rawan fitnah seperti

sekarang ini.

Ukhty fillah, marilah kita berdo’a semoga Allah menjernihkan hati kita setelah

kita berkali-kali jatuh dalam kekeruhan jiwa dan pekatnya zhan yang kurang baik.

Mengenai Syarat Nikah

Terkadang, kata Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, seorang wanita mensyaratkan

kepada orang yang meminangnya dengan persyaratan tertentu agar bisa menikahinya.

Kado Pernikahan 38

Syarat itu adakalanya menegakkan dan memperkuat akad nikah. Adakalanya merusak

akad nikah, misalnya tidak boleh menjima’ sebelum lulus kuliah. Adakalanya, wanita

mengajukan persyaratan yang keluar dari masalah tersebut seluruhnya.

Syarat nikah adakalanya berasal dari keinginan calon mempelai wanita. Tetapi,

adakalanya berasal dari kehendak orangtua atau anggota keluarga lain. Keinginan itu

kemudian dibebankan kepada anak gadisnya agar mempersyaratkan kepada calon

suami yang akan menikahinya.

Islam membolehkan wanita mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon

suaminya ketika melakukan akad. Jika Anda termasuk yang berkeinginan untuk

mengajukan beberapa persyaratan kepada orang yang meminang Anda, silakan baca

bab “Di manakah Wanita-wanita Barakah Itu?” di bagian satu jendela pertama buku

ini. Saya berharap kepada Allah, mudah-mudahan saya bisa membahas masalah ini

lebih mendalam. Adapun tinjauan menurut fiqih, silakan periksa buku-buku lain yang

telah menjelaskan masalah ini dengan sangat baik.

Wallahu A’lam bishawab.

Pada bab ini, cukuplah saya kutipkan sebuah hadis. Rasulullah bersabda,

“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang

maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya,

wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk

akhlaknya.”

Dari ‘Aisyah r.a., bahwa Rasulullah bersabda, “Nikah yang paling besar

barakahnya adalah yang paling kecil maharnya.”

Nikah yang paling besar barakahnya bukan yang sangat besar maharnya,

sehingga menimbulkan decak kagum pada tetangga dan kenalan, serta perasaan takut

dan gemetaran pada orang-orang berikutnya yang mau nikah. Nikah yang paling besar

barakahnya bukan yang paling banyak hadiahnya, sehingga menimbulkan perasaan

malu bagi saudara-saudara dan kerabat yang menikah tanpa hadiah sebesar itu dari

calon suaminya.

Jadi, begitulah. Selebihnya, wallahu A’lam bishawab.

Menyampaikan Isi Hati Kepada Ibu

Anda mungkin mempunyai pandangan mengenai pernikahan yang agak berbeda

dengan yang banyak dipahami masyarakat, khususnya orangtua. Anda menghendaki

tata cara yang menurut Anda lebih Islami, misalnya. Sementara yang demikian ini

masih kurang dikenal.

Perbedaan pandangan itu bisa jadi karena Anda telah belajar lebih banyak, bisa

jadi karena pengetahuan Anda masih kurang sehingga belum bisa bersikap di tengahtengah.

Jika tidak dikomunikasikan, perbedaan ini bisa mendatangkan masalah.

Membicarakannya jauh-jauh hari, bahkan ketika pinangan belum tiba, insya-Allah

lebih dekat dengan kemaslahatan dan membuahkan kesejukan bagi semua pihak.

Kado Pernikahan 39

Demikian juga pandangan mengenai suami yang baik dan insya-Allah dapat

membahagiakan Anda. Suami yang dapat menjadi teman hidup dan menyiapkan

perbekalan menuju kampung akhirat.

Atau…? Anda mungkin telah mempunyai perasaan tentang siapa kiranya laki-laki

yang paling sesuai di hati Anda untuk teman pulang ke kampung akhirat, seandainya

ada orang-orang yang ingin bersungguh-sungguh menemani Anda. Barangkali, seperti

Syafura putri Nabi Syuaib, di dalam hati Anda telah tertambat harapan kepada

seseorang yang menurut Anda tsiqah (bisa dipercaya). Sementara Anda gelisah, apa

yang paling maslahat (membawa kebaikan) untuk dilakukan.

Atau, ada rahasia-rahasia lain yang tidak layak bagi saya untuk mengetahuinya,

padahal masalah itu sangat berarti bagi Anda.

Ada bagian-bagian rahasia hati yang dapat Anda simpan sendiri. Meskipun

demikian, ada sejumlah rahasia hati yang sebaiknya Anda kemukakan pada orang

terdekat, selagi belum datang pinangan. Sampaikan rahasia hati Anda yang

menyangkut masalah penting dalam hidup Anda kepada ibu. Jika malu, Anda bisa

menyampaikan kepada nenek. Bisa juga kepada tante atau kakak wanita yang telah

memiliki pengalaman hidup. Mereka insya-Allah dapat bersikap bijaksana. Sehingga

kalau ada masalah yang Anda anggap pelik, mudah-mudahan Allah memudahkan

jalan keluarnya.

Kalau orangtua melihat ada madharat dan mafsadat yang mungkin terjadi dalam

masalah Anda, insya-Allah mereka dapat memikirkan jalan keluarnya. Sehingga,

Anda akan mendapat pemecahan terbaik.

Mereka telah memiliki pengalaman hidup. Bagi anak perempuan, seorang ayah

memiliki hak perwalian. Tidak sah nikah tanpa wali. Ada berbagai hadis yang

menunjukkan hal ini. Silakan Anda periksa. Semoga Allah Swt. memberikan hidayah

dan ilmu kepada kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang yakin. Orang-orang

yang memahami hikmah di balik disyariatkannya wali pernikahan seorang anak gadis.

Komunikasikanlah rahasia hati Anda, termasuk pandangan Anda tentang

pernikahan. Komunikasikanlah secara lemah lembut dengan pembicaraan yang

memuliakan mereka. Sehingga ketika masanya tiba, insya-Allah semua berjalan

dengan penuh kemaslahatan, barakah dan melegakan semua pihak.

Allahu A’lam bishawab.

Komunikasikanlah baik-baik. Mudah-mudahan semuanya berujung pada

kebaikan dunia-akhirat. Allahumma amin.

Jangan Buka Pintu Lagi

Suatu ketika seorang akhwat datang dengan membawa masalah. Seorang lakilaki

yang baik agamanya, begitu menurut akhwat tersebut, telah meminangnya dan

dengan tangan terbuka diterima. Tetapi karena sesuatu dan lain hal (sekedar

menirukan gaya panitia ketika menyampaikan kabar tentang pembicara yang tidak

Kado Pernikahan 40

bisa datang), pernikahan belum bisa diselenggarakan segera. Masih perlu waktu

untuk melengkapi keperluan nikah.

Dalam masa penantian, secara informal ada ikhwan lain datang dengan maksud

untuk meminang. Ketika diberitahu bahwa telah ada yang meminang dan sekarang

sedang dalam penantian, ikhwan kita ini mengatakan tak masalah. Bukankah belum

ada akad nikah? Kalau nanti di tengah jalan ternyata peminang pertama jadi

menikahi, maka dia akan mundur dengan senang hati. Karena itu, tak ada salahnya

kan kalau mencoba-coba untuk menjajagi kemungkinan menikah? Toh, kalau

peminang pertama memang serius bisa mundur sewaktu-waktu. Sementara kalau

tidak jadi, dia bisa maju.

Tapi, mencabut perasaan dan keputusan ternyata tak semudah mencabut duri

dalam daging. Sekarang keduanya berkeinginan untuk segera menikah dengan

sahabat kita ini dan kedua-duanya siap untuk segera melangsungkan pernikahan.

Persoalan ini semakin sulit dipecahkan karena sahabat kita merasa kedua-duanya

baik. Selain itu, sangat tidak mudah untuk menyuruh salah satu mundur karena

keduanya sudah melangkah agak jauh. Ikhwan yang pertama telah meminta dan

orangtua kedua belah pihak telah saling mengadakan pembicaraan.

Pembaca,

Ketika persoalan ini dihadapkan kepada saya, tidak ada jalan keluar yang saya

tawarkan kepada saudara kita ini. Saya berada dalam perasaan yang tidak jelas. Saya

hanya teringat pesan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam agar tidak meminang

wanita yang sedang berada dalam pinangan saudaranya. Perintah yang ada dalam

hadis Nabi itu ditujukan kepada kaum laki-laki. Tetapi, saya rasa (ya, saya rasa)

wanita pun perlu membantu saudaranya –yakni laki-laki Muslim– agar tak

meminangnya ketika ia sedang berada dalam pinangan, terutama ketika pinangan itu

telah positif dinyatakan diterima.

Marilah sejenak kita tengok hadis Nabi Saw. ini. Nabi kita yang mulia telah

mengingatkan:

Khath Arab

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin

adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin

menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang

wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu

meninggalkannya.” (HR Jama’ah).

Rasulullah juga bersabda:

Khath Arab

Kado Pernikahan 41

Dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Jangan hendaknya

lelaki meminang wanita yang telah dipinang orang lain, sehingga orang itu

melangsungkan perkawinan atau meninggalkannya (tidak jadi).” (HR Ahmad dan

Muslim).

Apa arti pesan Rasulullah itu bagi kita? Jawaban pertama adalah wallahu A’lam

bishawab. Saya tidak tahu apa-apa tentang soal ini. Sesudah itu, mari kita periksa apa

hikmah di balik peringatan untuk tidak meminang pinangan saudaranya sesama

Mukmin ini. Mari kita ingat perkataan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

mengenai pernikahan sebelum kita melangkah lebih dalam. Kata ‘Aisyah r.a.,

“Pernikahan itu sangat sensitif, dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk

mendapatkan kemuliaannya.”

Pernikahan itu sangat sensitif. Hampir setiap hal yang bersangkutan dengan

nikah sangat sensitif. Hampir setiap tahap dan proses peka terhadap munculnya sikap

maupun perasaan-perasaan tertentu secara khusus, baik yang dinyatakan ataupun

tidak. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal

pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, negatif maupun positif.

Padahal, lembaga pernikahan sangat agung. Lembaga pernikahan sangat

mempengaruhi bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya serta anak-anak yang

dilahirkan kelak akan tumbuh. Secara umum, lembaga pernikahan sebagian besar

masyarakat akan menentukan corak masyarakat yang terbentuk.

Kekecewaan dalam pernikahan, terutama proses-proses paling awal dari

pernikahan, sangat mudah mempengaruhi sikap orang yang bersangkutan terhadap

lawan jenis, ikatan pernikahan, kepercayaan terhadap sesama manusia, dan bahkan

agama –khususnya dalam perkara mengimani prinsip-prinsip agama. Secara khusus,

cacat dalam proses awal –di antaranya perasaan dilecehkan karena keluarga calon

istri menerima pinangan dari orang lain– dapat mengakibatkan sikapnya kelak kepada

istri dan anak-anaknya menjadi tidak baik. Sedangkan bagi peminang kedua —

seandainya kelak menikah dengan peminang kedua– sikap keluarga/calon istri juga

merupakan tanda yang yang tidak baik. Kepercayaan sulit dibangun. “Benar, saat ini

saya yang menang. Tapi apa yang dapat menjamin bahwa istri saya ini nanti akan

memiliki kesetiaan, sedangkan ludah yang sudah ditumpahkan saja ia masih mau

menjilat kembali.”

Ini salah satu kemungkinan saja. Kemungkinan yang lain boleh jadi bukan

sesuatu yang pasti buruk. Tuhan Sangat Kuasa untuk menentukan peristiwa yang

sama sekali lain dibanding perhitungan-perhitungan ‘aqliyyah (akal) manusia. Hanya

saja, sejauh yang mampu saya baca, itulah kemungkinan yang bisa terjadi.

Mudah-mudahan kejadiannya tidak sampai seperti itu. Pintu-pintu Allah masih

terbuka, seandainya hati kita mampu mengetuk-Nya. Mudah-mudahan Allah

memperbaiki keadaan kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita dengan

memperjalankan diri kita beserta keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang

suka berbuat baik. Mu-dah-mudahan Allah kelak mematikan kita, orangtua kita,

Kado Pernikahan 42

teman hidup kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita serta orang-orang yang

dekat kita dalam keadaan memperoleh ampunan dan ridha Allah.

Setiap kita mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan, bahkan yang

lebih besar lagi. Mudah-mudahan kita bisa merenungkan lebih dalam tentang urusan

agama kita, setahap demi setahap.

Mengapa Engkau Persulit Dirimu?

Banyak saudara-saudara kita yang harus berkeringat deras untuk bisa mencapai

pernikahan. Banyak yang bingung harus bagaimana lagi agar desakan untuk menikah

bisa surut, sementara puasa sudah dijalaninya dengan istiqamah. Banyak yang harus

melewatkan malam-malamnya dengan perasaan gelisah yang memuncak, sehingga

kadang harus diteduhkan dengan air mata, demi menenangkan hati dari kerinduan

bersanding dengan teman hidup. Banyak yang terbangun dari tidurnya yang tidak

nyenyak untuk merintih kepada Tuhan, “Ya Allah, hadirkanlah bagiku istri yang

menjadi penyejuk mataku dari sisi-Mu.”

Atau, “Ya Allah, hampir-hampir tak kuat hamba-Mu ini menahan keinginan

untuk menikah. Ya Allah, inilah hamba-Mu mengadu kepada-Mu.”

Banyak yang resah. Dan kemudian Allah menolongnya. Tetapi ada juga yang

dimudahkan jalannya oleh Allah untuk menikah. Di saat ada orang-orang yang harus

jatuh bangun menghadapi kesulitan, ia dengan ringan dilapangkan jalan untuk

menikah. Pada saat ada sejumlah orang yang dihimpit kesedihan karena keinginan

untuk menikah semasa masih kuliah tak bisa terlaksana, justru ada yang

menyembunyikan pernikahan karena alasan-alasan yang tak prinsip. Padahal kita

dianjurkan untuk segera mengumumkan pernikahan. Walimah, salah satu fungsinya

adalah untuk mengabarkan kepada masyarakat tentang pernikahan kita. Adakanlah

walimah walau hanya dengan seekor kambing. Kalau tak mampu, dengan

menyembelih seekor ayam pun bisa, yang penting kabar pernikahan kita

tersampaikan. Bahkan lazim di sebagian masyarakat Jawa Timur walimah nikah

diselenggarakan tanpa memotong kambing ataupun ayam.

Mengumumkan nikah bisa merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang

telah menyempurnakan setengah dari agama kita. Juga untuk menghindarkan saudarasaudara

kita dari fitnah dan tindakan memfitnah kita. Alhasil, mengapa kau

sembunyikan pernikahanmu jika tidak ada alasan yang prinsip untuk membuatmu

harus merahasiakan pernikahanmu? Mengapa…?

Berbicara tentang walimah, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Di

sebagian masyarakat, pernikahan sudah bukan lagi bentuk syukur kepada Allah

dengan mengharap do’a barakah dari para tamu untuk mempelai berdua. Pesta

pernikahan sudah menjadi pertaruhan status sosial, sehingga perhitungan-perhitungan

penilaian sosial menjadi sangat diperhatikan.

Dan demi prestise maupun mempertahankan gegap-gempita acara, sebuah

pernikahan yang Islami harus tercoreng oleh cacat yang bisa mengurangi barakah

Kado Pernikahan 43

(mudah-mudahan Allah mengampuni). Demi mendapatkan hasil rias yang

menakjubkan (kita ini memang suka membesarkan diri sendiri, ya) atau menjaga agar

riasan tidak luntur, kadang ada yang secara sengaja meninggalkan shalat. Kadang

pengantin harus repot dengan riasan-riasan yang memenuhi wajah dan kepalanya

ketika ia tetap shalat, karena prosesi merias tetap dilaksanakan menjelang waktu

shalat.

Ironis sekali. Di saat Allah menyempurnakan setengah dari agama kita dengan

memberi kemudahan bagi kita untuk menikah, kita justru mengecilkan asma’ Allah.

Padahal setiap shalat ketika selalu bertakbir. “Hanya Engkaulah ya Allah Yang Maha

Besar dan Maha Lebih Besar….”

Masih banyak yang bisa kita bicarakan tentang masalah ini. Tapi karena bab ini

bukan tentang walimah, maka pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini kita tunda

dulu. Insya-Allah kita akan mendiskusikannya nanti pada bab Memasuki Malam Zafaf

di jendela kedua buku ini.

Sebelum saya akhiri bab kita ini, saya masih ingin mengingat satu hal lagi

berkenaan dengan walimah. Di masyarakat kita, akhir-akhir ini mulai terjadi

kecenderungan menjadikan walimah untuk “investasi”. Penyelenggaraan walimah

secara sengaja diorientasikan hampir semata-mata untuk mendapatkan uang yang

mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa saat. Seorang akhwat bahkan mengeluh,

orangtua mengizinkan dia menikah sebelum lulus dengan catatan pesta nikah harus

diadakan besar-besaran dengan perhitungan bahwa dari pesta nikah itu akan

terkumpul banyak sekali uang. Dari uang yang terkumpul ini nanti bisa

didepositokan, sehingga bunganya bisa diambil setiap bulan untuk biaya hidup

keluarga baru itu sehari-hari.

Jalan pikiran semacam ini kelihatan tepat dan runtut. Tetapi semakin besar dan

mewah pesta pernikahan yang dilangsungkan, tidak menjadi jaminan sama sekali

bahwa akan semakin besar juga isi amplop yang akan diberikan oleh para tamu.

Apalagi dalam situasi seperti sekarang. Oleh karena itu, mengadakan walimah besarbesaran

dengan perhitungan seperti itu, saya khawatikan justru akan meninggalkan

kekecewaan yang besar manakala uang yang didapat tidak cukup untuk

didepositokan. Lebih-lebih kalau sampai “tekor” (merugi) dalam jumlah yang besar,

sedangkan modal penyelenggaraan walimah diperoleh dari hutang, sehingga yang

tersisa dari pesta pernikahan itu boleh jadi justru tangis dan kesedihan yang panjang.

Hari-hari selanjutnya, kecemasan tentang bagaimana melunasi hutang akan terus

mengejar. Mudah-mudahan tidak sampai kehabisan nafas.

Artinya apa? Pesta pernikahan janganlah justru menjatuhkan kita ke dalam

madharat dan mafsadah yang besar. Jangan karena perhitungan tentang isi amplop,

kita justru menjadi tidak percaya kepada Allah; tidak percaya bahwa Allah menjamin

rezeki kita setiap bulan, bahkan setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Janganlah

pesta pernikahan menjadikan kita berubah, dari berharap kepada rezeki Allah beralih

mengharapkan bunga dari deposito bank (padahal bank saja tidak bisa menjamin

nasibnya sendiri dari kebangkrutan).

Kado Pernikahan 44

Saya teringat dengan teman saya. Di daerahnya, sudah mulai lazim dalam

undangan nikah dicantumkan permintaan agar tidak membawa kado, cukup amplop

saja. Karena sudah disarankan oleh shahibul bayt (tuan rumah) untuk membawa

amplop saja, berangkatlah mereka ke pesta pernikahan itu dengan menyiapkan

amplop masing-masing. Keluarga mempelai wanita pun berbahagia bahwa tamutamunya

membawa amplop.

Tapi malang tak dapat ditolak. Untung tak bisa diraih. Setelah dibuka, banyak

amplop yang kosong (“Tidak salah mereka,” kata istri saya. “Kan mereka disuruh

bawa amplop?”).

“Masih untung kalau isi uang seratus perak. Ini kosong sama sekali,” kata teman

saya cerita.

Di luar itu, ada persoalan lebih mendasar yang membuat sikap mencari dana

untuk didepositokan itu tidak tepat. Persoalan itu bukan terletak pada perhitunganperhitungan

ekonomi yang ternyata kemungkinannya untuk “impas” atau “rugi”

memang sangat besar. Persoalan yang lebih mendasar ada pada masalah adab, akhlak,

aqidah dan khususnya persangkaan kita kepada Allah serta keadaan hati kita tentang

apa yang seharusnya dicita-citakan dalam menikah. Andaikan ternyata hasil akhir

pesta nikah itu kerugian, lalu menyebabkan hutang membengkak, saya khawatir

pengantin yang baru menikah beserta orangtua dan anggota keluarga yang lain

senantiasa disibukkan oleh impian-impian, di samping kecemasan-kecemasan

berkenaan dengan masalah hutang.

Comments on: "Sebelum Samapai Ke Akad Nikah (2)" (1)

  1. Nurul Nurrochim said:

    ok! doakan kami yang cepet pengin nikah ya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: