<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>mujahid</title>
	<atom:link href="http://mujahid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mujahid.wordpress.com</link>
	<description>Just another Wordpress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 04:25:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mujahid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>mujahid</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mujahid.wordpress.com/osd.xml" title="mujahid" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mujahid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Don&#8217;t</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2010/11/30/dont/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2010/11/30/dont/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 01:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[* Jangan rusak nilai kita dengan membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini karena kita yang berbeda yang masing-masing diri kita special. * Jangan menetapkan tujuan Anda dengan apa yang orang lain anggap penting. Hanya Anda tahu apa yang terbaik bagi Anda. * Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati Anda. Berpegang teguh kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=105&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>* Jangan rusak nilai kita dengan membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini karena kita yang berbeda yang masing-masing diri kita special.</p>
<p>* Jangan menetapkan tujuan Anda dengan apa yang orang lain anggap penting. Hanya Anda tahu apa yang terbaik bagi Anda.</p>
<p>* Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati Anda. Berpegang teguh kepada mereka seperti yang akan Anda hidup Anda, karena tanpa mereka, hidup tidak berarti.</p>
<p>* Jangan kelepasan hidup Anda melalui jari-jari Anda dengan hidup di masa lalu atau untuk masa depan. Dengan hidup Anda satu hari pada satu waktu, anda tinggal SEMUA hari hidup Anda.</p>
<p>* Jangan menyerah ketika Anda masih memiliki sesuatu untuk diberikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.</p>
<p>* Jangan takut untuk mengakui bahwa Anda kurang sempurna. Ini adalah thread ini rapuh yang mengikat kita masing-masing bersama-sama.</p>
<p>* Jangan takut menghadapi risiko. Hal ini dengan mengambil kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.</p>
<p>* Jangan mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata tidak mungkin untuk menemukan. Cara tercepat untuk menerima cinta adalah memberikan; cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah untuk memegangnya terlalu erat, dan cara terbaik untuk menjaga cinta adalah untuk memberikan sayap.</p>
<p>* Jangan jalankan melalui hidup begitu cepat sehingga Anda lupa tidak hanya di mana Anda telah, tetapi juga di mana Anda akan pergi.</p>
<p>* Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.</p>
<p>* Jangan takut untuk belajar. Pengetahuan adalah ringan, harta Anda selalu dapat membawa dengan mudah.</p>
<p>* Jangan gunakan waktu atau kata-kata sembarangan. Tidak dapat diambil. Hidup bukanlah perlombaan, tetapi perjalanan yang harus menikmati setiap langkah dari jalan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=105&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2010/11/30/dont/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Penurut</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/11/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-penurut/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/11/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-penurut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 07:34:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[True Story !!! Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat. yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami… Kisah tentang seorang gadis kecil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=101&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
  True Story !!! Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat. yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami…<br />
<span id="more-101"></span><br />
Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.</p>
<p>Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.</p>
<p>Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.</p>
<p>Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.</p>
<p>Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.</p>
<p>Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di<br />
sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.</p>
<p>Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.</p>
<p>Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.<br />
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.</p>
<p>Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.<br />
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”</p>
<p>Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya<br />
sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela<br />
melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa<br />
menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.</p>
<p>Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu<br />
Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.</p>
<p>Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.</p>
<p>Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya<br />
mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”</p>
<p>Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di<br />
ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama<br />
kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min<br />
menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.</p>
<p>Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu<br />
memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.</p>
<p>Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.</p>
<p>Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu<br />
Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”</p>
<p>Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan<br />
diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.</p>
<p>Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante,<br />
kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat<br />
wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.</p>
<p>Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di<br />
pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.<br />
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.</p>
<p>Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit,<br />
kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.</p>
<p>Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.</p>
<p>Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima<br />
kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.</p>
<p>Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak<br />
mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.</p>
<p>Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami<br />
diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.</p>
<p>Kesimpulan:<br />
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia.<br />
Walaupun hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=101&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/11/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-penurut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taubat</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/08/taubat/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/08/taubat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 08:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Ya Rabb, kini aku berada di sisi-Mu Aku datang dengan mata menangis Kudatang dengan rintihan, kegelisahan, dan kesedihan Telah kuperbuat banyak kejahatan dan dosa Sehingga jadilah aku sang pendosa Di sisi-Mu-lah sekarang, hai Sang Maharaja Aku datang dengan penuh penyesalan Hati ini sudah dipenuhi kesalahan Aku sangat malu saat menerima soalan Bagaikan burung yang terikat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=95&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mujahid.files.wordpress.com/2010/05/taubat.png"><img src="http://mujahid.files.wordpress.com/2010/05/taubat.png?w=300&#038;h=210" alt="" title="taubat" width="300" height="210" class="alignnone size-medium wp-image-96" /></a></p>
<p>Ya Rabb, kini aku berada di sisi-Mu<br />
Aku datang dengan mata menangis<br />
Kudatang dengan rintihan, kegelisahan, dan kesedihan<br />
Telah kuperbuat banyak kejahatan dan dosa<br />
Sehingga jadilah aku sang pendosa<br />
Di sisi-Mu-lah sekarang, hai Sang Maharaja<br />
Aku datang dengan penuh penyesalan<br />
Hati ini sudah dipenuhi kesalahan<br />
Aku sangat malu saat menerima soalan<br />
Bagaikan burung yang terikat sayapnya<br />
Aku datang sambil jatuh bangun Wajahku merunduk ke tanah<br />
Aku datang dengan pandangan sembab<br />
Wahai penguasa alam, lihatlah<br />
Aku datang dengan hati terbakar</p>
<p>Tiada yang dapat menenangkan hatiku selain Dzat-Mu<br />
Akulah makhluk-Mu yang hanya berharap redha-Mu<br />
Kerna Engkaulah penentu semua perbuatan dan prilaku<br />
Hanya pada-Mu-lah kegundahanku dapat berlalu<br />
Hanya dari mata air sayang dan kemuliaan-Mu-lah Ya Allah<br />
Air lain tidak mengalir ke sungai-sungai tubuhku<br />
Semenjak diriku tercakup dalam inayah-Mu<br />
Tiada beban dalam tubuhku selain beban kegundahan-Mu</p>
<p>Ya Allah, hariku gelap, perbuatanku salah<br />
Ya Allah, akulah pendosa dan bermasalah<br />
Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu ini<br />
Ampunilah hamba-Mu yang malu ini<br />
Meski kejahatan segunung dosa<br />
Di sisi ampunan-Mu, lebih kecil dari biji gandum<br />
Jangan Kau masukkan daku ke dalam neraka-Mu<br />
Aku yang kebingungan, sedih, dan merintih<br />
Berharap pada-Mu, hai Yang Mahahidup lagi Mahasuci<br />
Aku Mohon pada-Mu, sebuah hati yang menangis dan letih<br />
Kerna tempat-Mu di hati yang hancur.</p>
<p>Ya Allah, lindungi mereka yang tak punya perlindungan<br />
Tataplah mereka yang keletihan<br />
Betapa sedikit peminta yang beroleh perhatian si sultan<br />
Banyaknya kebutuhan membuatku gelisah<br />
Saksikanlah kegelisahanku, Wahai Tuhan<br />
Ya Allah, kusandarkan diriku pada kasih sayang-Mu<br />
Kerna tiada yang layak disandar selain kasih sayang-Mu<br />
Bimbinglah hati yang gundah-gulana<br />
Kerna hati tanpa pembimbing kan jatuh dalam sumur<br />
Kepala menempel ke tanah rumah-Mu<br />
Sambil meminta, butuh, dan menghatur ampunan<br />
Telah datang pada-Mu tawanan yang pemalu lagi pendosa<br />
Sambil berharap kasih sayang dan ampunan-Mu<br />
Seorang pengemis dengan tangis penyesalan<br />
Menjadi tak berguna karna beban dosa<br />
Kugapai tangan Yang Maha Pengampun<br />
Agar dianugerahkan sesuatu yang istimewa</p>
<p>Ya Tuhan, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya bertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.</p>
<p>Ya Rabbi, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan surga-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru menusia kepada-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan, jika Engkau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.</p>
<p>Ya Tuhan ampuni dosa hambamu..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=95&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2010/05/08/taubat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mujahid.files.wordpress.com/2010/05/taubat.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">taubat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keagungan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/keagungan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/keagungan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 02:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[[1] KEDUDUKAN SHAUM RAMADHAN “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”. Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman Allah ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=92&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>[1] KEDUDUKAN SHAUM RAMADHAN</strong></p>
<p>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…”.</p>
<p><span id="more-92"></span></p>
<p><strong>Kewajiban Bagi Kaum Yang Beriman</strong><br />
Allah ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).</p>
<p><span id="more-930"> </span></p>
<p>Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di dalam agama Islam. Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’/kesepakatan kaum muslimin karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380).</p>
<p>Ketika menjelaskan ayat di atas beliau mengatakan, “Allah mengarahkan pembicaraannya (di dalam ayat ini, pen) kepada orang-orang yang beriman. Sebab puasa Ramadhan merupakan bagian dari konsekuensi keimanan. Dan dengan menjalankan puasa Ramadhan akan bertambah sempurna keimanan seseorang. Dan juga karena dengan meninggalkan puasa Ramadhan akan mengurangi keimanan. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan puasa karena meremehkannya atau malas, apakah dia kafir atau tidak? Namun pendapat yang benar menyatakan bahwa orang ini tidak kafir. Sebab tidaklah seseorang dikafirkan karena meninggalkan salah satu rukun Islam selain dua kalimat syahadat dan shalat.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380-381).</p>
<p>Menunaikan kewajiban merupakan ibadah yang sangat utama, karena kewajiban merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda membawakan firman Allah ta’ala (dalam hadits qudsi),</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</p>
<p>“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…” (HR. Bukhari [6502] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mengerjakan kewajiban lebih utama daripada mengerjakan amalan yang sunnah.” (Syarh Arba’in li An-Nawawi yang dicetak dalam Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 265).</p>
<p>Syaikh As-Sa’di juga mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat pokok yang sangat agung yaitu kewajiban harus didahulukan sebelum perkara-perkara yang sunnah. Dan ia juga menunjukkan bahwa amal yang wajib itu lebih dicintai Allah dan lebih banyak pahalanya.” (Bahjat Al-Qulub Al-Abrar, hal. 116).</p>
<p>Al-Hafizh mengatakan, “Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwasanya menunaikan kewajiban-kewajiban merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah.” (Fath Al-Bari, 11/388).</p>
<p>Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Amal-amal wajib lebih utama daripada amal-amal sunnah. Menunaikan amal yang wajib lebih dicintai Allah daripada menunaikan amal yang sunnah. Ini merupakan pokok agung dalam ajaran agama yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syari’at dan ditetapkan pula oleh para ulama salaf.” Kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Setelah itu beliau mengatakan, “Maka hadits ini memberikan penunjukan yang sangat gamblang bahwa amal-amal wajib lebih mulia dan lebih dicintai Allah daripada amal-amal sunnah.” Kemudian beliau menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas (lihat Tajrid Al-Ittiba’ fi Bayan Tafadhul Al-A’maal, hal. 34).</p>
<p><strong>[2] KEUTAMAAN SHAUM</strong></p>
<p>“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi…”</p>
<p><strong>Menghapuskan Dosa-Dosa</strong><br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari [38, 1901, 2014] dan Muslim [760] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Yang dimaksud dengan iman di sini adalah meyakini wajibnya puasa yang dia lakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan mengharapkan pahala/ihtisab adalah keinginan mendapatkan balasan pahala dari Allah ta’ala (Fath Al-Bari, 4/136).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ</p>
<p>“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233]).</p>
<p>Di dalam kitab Shahihnya Bukhari membuat sebuah bab yang berjudul ‘Shalat lima waktu sebagai penghapus dosa’ kemudian beliau menyebutkan hadits yang senada, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا</p>
<p>“Bagaimana menurut kalian kalau seandainya ada sebuah sungai di depan pintu rumah kalian dan dia mandi di sana sehari lima kali. Apakah masih ada sisa kotoran yang ditinggalkan olehnya?”. Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak ada lagi kotoran yang masih ditingalkan olehnya.” Maka beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari [528] dan Muslim [667]).</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini lebih luas daripada dosa kecil maupun dosa besar. Akan tetapi Ibnu Baththal mengatakan, ‘Dari hadits ini diambil kesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah khusus dosa-dosa kecil saja, sebab Nabi menyerupakan dosa itu dengan kotoran yang menempel di tubuh. Sedangkan kotoran yang menempel di tubuh jelas lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan bekas luka ataupun kotoran-kotoran manusia.’.”</p>
<p>Meskipun demikian, Ibnu Hajar membantah ucapan Ibnu Baththal ini dengan menyatakan bahwa yang dimaksud oleh hadits bukanlah kotoran ringan yang sekedar menempel di badan, namun yang dimaksudkan adalah kotoran berat yang benar-benar sudah melekat di badan. Penafsiran ini didukung oleh bunyi riwayat lainnya yang dibawakan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri dengan sanad la ba’sa bihi yang secara tegas menyebutkan hal itu.</p>
<p>Oleh sebab itulah Al-Qurthubi mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa melakukan shalat lima waktu itulah yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa, akan tetapi makna ini janggal. Namun terdapat hadits lain yang diriwayatkan sebelumnya oleh Muslim dari penuturan Al-Alla’ dari Abu Hurairah secara marfu’ Nabi bersabda, ‘Shalat yang lima waktu adalah penghapus dosa di antara shalat-shalat tersebut selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Berdasarkan dalil yang muqayyad (khusus) ini maka hadits lain yang muthlaq (umum) harus diartikan kepada makna ini.” (lihat Fath Al-Bari, 2/15).</p>
<p>Hadits-hadits yang menyebutkan tentang penghapusan dosa karena amal kebaikan di atas sesuai dengan kandungan firman Allah ta’ala,</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ</p>
<p>“Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu akan menghapuskan dosa-dosa.” (QS. Huud [11] : 114).</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan, “Allah menyatakan bahwa mengerjakan amal-amal kebaikan akan dapat menghapuskan dosa-dosa di masa silam…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 4/247). Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di dalam ayat di atas adalah dosa-dosa kecil (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 391).</p>
<p>Sebagaimana Allah juga menjadikan tindakan menjauhi dosa-dosa besar sebagai sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا</p>
<p>“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisaa’ [4] : 31).</p>
<p>Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa definisi yang paling tepat untuk dosa besar adalah segala bentuk pelanggaran yang diberi ancaman hukuman khusus (hadd) di dunia atau ancaman hukuman tertentu di akhirat atau ditiadakan status keimanannya atau timbulnya laknat karenanya atau Allah murka kepadanya (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176).</p>
<p>Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan ucapan Ibnu Abbas mengenai firman Allah di atas. Ibnu Abbas mengatakan, “Dosa besar adalah segala bentuk dosa yang berujung dengan ancaman neraka, kemurkaan, laknat, atau adzab.” (HR. Ibnu Jarir, disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, 2/202).</p>
<p>Ibnu Abi Hatim menuturkan : Abu Zur’ah menuturkan kepada kami : Utsman bin Syaibah menuturkan kepada kami : Jarir menuturkan kepada kami riwayat dari Mughirah. Dia (Mughirah) mengatakan, “Tindakan mencela Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma juga termasuk dosa besar.” Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama bahkan berpendapat kafirnya orang yang mencela Sahabat, ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Malik bin Anas rahimahullah.” Muhammad bin Sirin mengatakan, “Aku tidaklah mengira bahwa ada seorang pun yang menjatuhkan nama Abu Bakar dan Umar sementara dia adalah orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). (lihat keterangan ini dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203).</p>
<p>Qatadah mengatakan tentang makna ayat di atas, “Allah hanya menjanjikan ampunan bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203).</p>
<p>Termasuk bagian dari menjauhi dosa besar ialah dengan senantiasa menunaikan kewajiban yang apabila ditinggalkan maka pelakunya terjerumus dalam dosa besar seperti halnya meninggalkan shalat, meninggalkan shalat Jum’at, atau meninggalkan puasa Ramadhan (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176).</p>
<p><strong>Memasukkan Ke Dalam Surga</strong><br />
Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan rambutnya acak-acakan. Dia mengatakan,<br />
“Wahai Rasulullah. Beritahukan kepadaku tentang shalat yang Allah wajibkan untuk kukerjakan?”.<br />
Beliau menjawab,<br />
“Shalat lima waktu, kecuali kalau kamu mau menambahnya dengan shalat sunnah.”<br />
Lalu dia berkata,<br />
“Beritahukan kepadaku puasa yang Allah wajibkan untukku?”.<br />
Beliau menjawab,<br />
“Puasa di bulan Ramadhan, kecuali kalau kamu mau menambah dengan puasa sunnah.”<br />
Lalu dia berkata,<br />
“Beritahukan kepadaku zakat yang Allah wajibkan untukku.”<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Orang itu lalu mengatakan, “Demi Dzat yang telah memuliakan anda dengan kebenaran. Aku tidak akan menambah sama sekali, dan aku juga tidak akan menguranginya barang sedikitpun dari kewajiban yang Allah bebankan kepadaku.”<br />
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,<br />
“Dia beruntung jika dia memang jujur.”<br />
Atau beliau mengatakan,<br />
“Dia akan masuk surga jika dia benar-benar jujur/konsekuen dengan ucapannya itu.” (HR. Bukhari [46, 1891, 2678, dan 9656] dan Muslim [11]).</p>
<p><strong>Membentengi Pelakunya Dari Perbuatan Buruk</strong><br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا</p>
<p>“Puasa adalah perisai, maka janganlah dia berkata kotor dan bertindak dungu. Kalau pun ada orang yang mencela atau mencaci maki dirinya hendaknya dia katakan kepadanya, “Aku sedang puasa.” Dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi. (Allah berfirman) ‘Dia rela meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan nafsunya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Setiap kebaikan itu pasti dilipatgandakan sepuluh kalinya.” (HR. Bukhari [1894] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Yang dimaksud dengan kata-kata kotor (rofats) di dalam hadits ini adalah ucapan yang keji. Kata rofats juga terkadang dimaksudkan untuk menyebut jima’ beserta pengantar-pengantarnya. Atau bisa juga maknanya lebih luas daripada itu semua (Fath Al-Bari, 4/123).</p>
<p>Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ini bukan berarti di selain waktu puasa orang boleh mengucapkan kata-kata kotor. Hanya saja ketika sedang berpuasa maka larangan terhadap hal itu semakin keras dan semakin tegas (Fath Al-Bari, 4/124).</p>
<p>Kata rofats dengan makna jima’ bisa dilihat dalam ayat,</p>
<p style="text-align:right;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ</p>
<p>“Dihalalkan untuk kalian pada malam (bulan) puasa melakukan rafats (jima’) kepada isteri-isteri kalian.” (QS. Al-Baqarah [2] : 187).</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata rofats di dalam ayat ini maksudnya adalah jima’. Inilah tafsiran Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdullah, Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adh-Dhahhaak, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi, Atha’ Al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayan (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1/286).</p>
<p>Dan yang dimaksud dengan bau mulut -orang yang puasa- tersebut adalah bau mulut yang timbul akibat berpuasa, bukan karena sebab yang lain (Fath Al-Bari, 4/125).</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud dengan ‘keinginan nafsunya’ di dalam hadits ini adalah hasrat untuk berjima’, sebab penyebutannya digandengkan dengan makan dan minum (Fath Al-Bari, 4/126).</p>
<p><strong>Sebuah Pintu Khusus Di Surga</strong><br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ</p>
<p>“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).</p>
<p>Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم</p>
<p>“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”<br />
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.<br />
Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ’sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ’sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351). Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل</p>
<p>“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, “Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.” Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31).</p>
<p>Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.</p>
<p style="text-align:right;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).</p>
<p>Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, ”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, ”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap (sesama) makhluk-Nya.” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, hal. 102).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p>”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma).</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kebaikan gerak-gerik anggota badan manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya. Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hal. 93).</p>
<p>An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah, “Poros baik dan rusaknya (amalan) adalah bersumber dari hati. Apabila hatinya baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Dan jika ia rusak, maka seluruh anggota tubuh akan ikut rusak. Dari faidah ini muncul perkara yang lain yaitu : sudah semestinya memperhatikan masalah hati lebih daripada perhatian terhadap masalah amal anggota badan. Sebab hati adalah poros amalan. Dan hati itulah yang nanti pada hari kiamat akan menjadi objek utama ujian yang ditujukan kepada manusia. Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apakah mereka tidak mengetahui ketika mayat yang ada di dalam kubur dibangkitkan dan dikeluarkan apa-apa yang tersembunyi di dalam dada.” (QS. Al-’Adiyat : 9-10). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha Kuasa untuk mengembalikannya. Pada hari itu akan diuji perkara-perkara yang tersembunyi (di dalam hati).” (QS. Ath-Thariq : 8-9). Maka sucikanlah hatimu dari kesyirikan, kebid’ahan, dengki dan perasaan benci kepada kaum muslimin, serta (bersihkanlah hatimu) dari akhlak-akhlak dan keyakinan lainnya yang bertentangan dengan syari’at, karena yang menjadi pokok segala urusan adalah hati.” (Syarh Arba’in, hal. 113).</p>
<p>Beliau juga mengatakan, “Apabila Allah di dalam kitab-Nya, serta Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya juga telah menegaskan agar memperbaiki niat, maka wajib bagi setiap manusia untuk memperbaiki niatnya dan memperhatikan adanya keragu-raguan yang tertanam di dalam hatinya untuk kemudian dilenyapkan olehnya menuju keyakinan. Lantas bagaimanakah caranya?”.</p>
<p>Beliau melanjutkan, “Hal itu dapat ditempuh dengan cara memperhatikan ayat-ayat. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sungguh-sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal pikiran.” (QS. Ali ‘Imran : 190). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman, begitu juga dalam penciptaan diri kalian dan hewan-hewan melata yang bertebaran adalah tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Jatsiyah : 4). Maka silakan anda perhatikan ayat-ayat Allah yang lain.”</p>
<p>“Kemudian apabila syaitan membisikkan di dalam hati anda keragu-raguan, perhatikanlah ayat-ayat Allah, perhatikan alam semesta ini siapakah yang telah mengaturnya, perhatikanlah bagaimana keadaan bisa berubah-ubah, bagaimana Allah mempergilirkan perjalanan hari di antara umat manusia sampai anda benar-benar yakin bahwa alam ini memiliki pengatur yang maha bijaksana (yaitu Allah) ‘azza wa jalla…” (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/41)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=92&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/keagungan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sucikan Hati</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/sucikan-hati/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/sucikan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 02:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89). Untuk memperjelas kandungan ayat yang mulia ini, marilah kita simak keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya…. Artinya; tidaklah harta yang dimiliki oleh seorang manusia -meskipun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=90&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post-888">
<div>
<div>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89).</p>
<p><span id="more-90"></span></p>
<p>Untuk memperjelas kandungan ayat yang mulia ini, marilah kita simak keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya….</p>
<p>Artinya; tidaklah harta yang dimiliki oleh seorang manusia -meskipun dia berikan emas sepenuh isi bumi- untuk menebus adzab Allah, demikian juga anak keturunannya bahkan meskipun seluruh manusia yang ada di muka bumi ini dia pergunakan untuk menebus adzab itu niscaya tidak akan diterima oleh Allah. Sebab pada hari itu tidak ada yang bermanfaat selain keimanan kepada Allah, keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, dan juga sikap berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku-pelakunya. Oleh karena itu Allah menyatakan (yang artinya), “kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” maknanya; selamat dari kotoran dosa dan kesyirikan. Muhammad bin Sirin mengatakan, “Hati yang selamat bisa menyadari bahwa Allah adalah (sesembahan) yang haq. Dan meyakini bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan padanya, dan Allah pasti membangkitkan orang-orang yang sudah terkubur.” Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan makna “kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” artinya, “Hati tersebut hidup dan mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah.” Sementara Mujahid dan Al-Hasan menerangkan bahwa makna hati yang selamat yaitu bersih dari syirik. Sa’id bin Al-Musayyib melengkapi bahwa makna hati yang selamat adalah hati yang sehat; yaitu hati seorang mukmin, karena hati orang kafir dan munafik adalah hati yang sakit. Sebagaimana hal itu Allah sebutkan (dalam ayat yang artinya), “Di dalam hati mereka terdapat penyakit.” (QS. Al-Baqarah : 10). Sedangkan Abu Utsman An-Naisaburi mengatakan, “Hati yang selamat itu adalah hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram di atas As-Sunnah.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 6/48).</p>
<p>Karakter hati yang selamat<br />
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyebutkan beberapa karakter/ciri hati yang selamat; yaitu hati tersebut diisi dengan : keikhlasan, ilmu, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan dan menganggap kebaikan itu sesuatu yang indah di dalam hatinya, keinginan dan kecintaannya senantiasa mengikuti apa yang Allah cintai, begitu pula hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang Allah berikan (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 593).</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa hati tidak akan benar-benar bisa selamat kecuali jika terbebas dari lima hal; [1] syirik yang memupuskan tauhid, [2] bid’ah yang menyimpangkan dari As-Sunnah, [3] menuruti keinginan nafsu yang membuat berpaling dari perintah (syari’at), [4] kelalaian yang membuat dzikir terbengkalai, [5] hawa nafsu yang mengikis kemurnian ibadah dan keikhlasan (lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 138. Cet. Dar Al-Aqidah).</p>
<p>Sebagian orang bijak mengatakan, “Bukankah apabila orang yang sakit itu dihalangi dari makan dan minum serta tidak mengkonsumsi obat maka dia akan mati?”. Mereka (teman-temannya) menjawab, “Benar.” Lalu dia mengatakan, “Maka demikian pula hati; apabila ia terhalangi dari memperoleh ilmu dan hikmah selama tiga hari niscaya hati itu juga mati.” (lihat Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 144).</p></div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=90&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/sucikan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertaubatlah!</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/bertaubatlah/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/bertaubatlah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 02:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku yang tercinta, Sejak diciptakan oleh Allah, manusia selalu berada di atas sebuah titian perjalanan. Dunia bukanlah negeri untuk ditinggali selamanya. Akan tetapi ia adalah tempat persinggahan dan sekedar untuk lewat saja … Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kita menghadap Allah. Barangsiapa yang berlaku baik di dalam perjalanannya niscaya akan diberi balasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=88&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post-873">
<div>
<div>
<p>Saudaraku yang tercinta,<br />
Sejak diciptakan oleh Allah, manusia selalu berada di atas sebuah titian perjalanan.<br />
Dunia bukanlah negeri untuk ditinggali selamanya. Akan tetapi ia adalah tempat persinggahan dan sekedar untuk lewat saja …</p>
<p><span id="more-88"></span></p>
<p>Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kita menghadap Allah. Barangsiapa yang berlaku baik di dalam perjalanannya niscaya akan diberi balasan dengan kenikmatan abadi di surga… Dan barangsiapa yang berlaku jelek di dalam perjalanannya niscaya akan dibalas dengan siksa yang pedih di dalam Jahannam.</p>
<p>Oleh sebab itu, orang yang berbahagia adalah yang selalu bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini dan membekali dirinya untuk itu. Dia pun mempersiapkan bekal ketakwaan dan amal shalihnya. Sedangkan orang yang celaka ialah orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya di dalam kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga kedatangannya tatkala menghadap Tuhannya ia divonis sebagaimana para pendurhaka, pelaku dosa dan kesalahan.</p>
<p>Sementara itu, di dalam perjalanannya menuju Allah seorang hamba pastilah akan mengalami sesuatu yang tidak terpuji, baik berupa ucapan maupun perbuatan; sebab manusia bukanlah makhluk yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa). Dia tidak pernah lepas dari sifat lupa dan lalai. Dan karena kemaksiatan-kemaksiatan merupakan sebab timbulnya murka Allah terhadap hamba dan pemicu ditimpakannya hukuman atasnya maka Allah ‘azza wa jalla tidaklah menelantarkan hamba-hamba-Nya menjadi tawanan maksiat. Allah tidak membiarkan mereka terjebak dalam kebingungan dan kekalutan. Akan tetapi Allah melimpahkan nikmat yang sangat agung kepada mereka. Allah karuniakan kepada mereka sebuah anugerah yang sangat besar. Yaitu dengan dibukakan-Nya pintu taubat dan inabah bagi mereka. Kalau seandainya Allah tidak memberikan taufik kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dan tidak memberikan nikmat diterimanya taubat itu pastilah hamba akan terjebak dalam sebuah kondisi sempit yang amat menyusahkan. Sehingga merekapun diliputi rasa putus asa dari mendapatkan ampunan. Dan harapan mereka untuk bisa mencari kedekatan dengan Tuhannya pun menipis dan terputuslah keinginan mereka untuk bisa meraih ampunan, kelapangan dan kelonggaran.</p>
<p>Allah Maha pengampun, Maha penerima taubat dan Maha penyayang<br />
Allah menyifati diri-Nya di dalam Al Qur’an bahwa Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang hampir mendekati 100 kali. Allah berjanji mengaruniakan nikmat taubat kepada hamba-hamba-Nya di dalam sekian banyak ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya” (QS. An Nisaa’ [4] : 27)</p>
<p>Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana” (QS. An Nuur [24] : 10). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya” (QS. An Najm [53] : 32). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu” (QS. Al A’raaf [7] : 156)</p>
<p>Oleh karenanya, saudaraku yang tercinta<br />
Pintu taubat ada di hadapanmu terbuka lebar, ia menanti kedatanganmu…<br />
Jalan kaum yang bertaubat telah dihamparkan, …<br />
Ia merindukan pijakan kakimu…<br />
Maka ketuklah pintunya dan tempuhlah jalannya. Mintalah taufik dan pertolongan kepada Tuhanmu…</p>
<p>Bersungguh-sungguhlah dalam menaklukkan hawa nafsumu, paksalah ia untuk tunduk dan taat kepada Tuhannya. Dan apabila engkau telah benar-benar bertaubat kepada Tuhanmu kemudian sesudah itu engkau terjatuh lagi di dalam maksiat -sehingga memupus taubatmu yang terdahulu- janganlah malu untuk memperbaharui taubatmu untuk kesekian kalinya. Selama maksiat itu masih berulang padamu maka teruslah bertaubat.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya Dia Maha mengampuni kesalahan hamba-hamba yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” (QS. Al Israa’ [17] : 25). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Dzat Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan” (QS. Az Zumar [39] : 53-54)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian” (Shahih Ibnu Majah)</p>
<p>Maka dimanakah orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya?<br />
Dimanakah orang-orang yang kembali taat dan merasa takut siksa?<br />
Dimanakah orang-orang yang ruku’ dan sujud?</p>
<p>Kewajiban bertaubat<br />
Hakikat taubat adalah meninggalkan segala yang dibenci Allah lahir maupun batin menuju segala hal yang dicintai-Nya lahir maupun batin. Asal makna taubat adalah kembali. Barangsiapa yang kembali insaf setelah terjerumus dalam berbagai penyimpangan karena merasa malu kepada Allah dan takut terhadap azab-Nya maka dialah orang yang disebut sebagai taa’ib (pelaku taubat)</p>
<p>Hukum taubat fardhu ‘ain atas setiap muslim berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’.</p>
<p>Adapun dalil dari Al Kitab, ini didasarkan oleh firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang beriman, supaya kalian mendapatkan keberuntungan” (QS. An Nuur [24] : 31) Begitu pula firman Allah ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahriim [66] : 8)</p>
<p>Di dalam kedua ayat ini terdapat perintah yang sangat tegas untuk bertaubat kepada semua kaum beriman. Hal ini menunjukkan wajibnya melakukan taubat. Dan ia juga sekaligus menunjukkan bahwa taubat itu tidak khusus berlaku bagi para pelaku maksiat dan kesalahan saja; karena Allah ta’ala memerintahkannya kepada seluruh kaum beriman.</p>
<p>Dalil lain yang juga menunjukkan atas kewajiban bertaubat ialah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang berbuat zalim” (QS. Al Hujuraat [49] : 11). Di dalam ayat ini Allah membagi hamba-hamba-Nya ke dalam dua kelompok : yang bertaubat dan yang zalim. Dan karena kezaliman itu diharamkan maka sebaliknya bartaubatpun menjadi sebuah kewajiban.</p>
<p>Adapun dalil dari As Sunnah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk bertaubat. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku sendiri bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim)</p>
<p>Sedangkan dalil ijma’ ialah sebagaimana telah diutarakan oleh Ibnu Qudamah, “Telah terjadi ijma’ atas wajibnya bertaubat” (Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap hamba harus bertaubat, Taubat itu merupakan kewajiban orang yang hidup terdahulu maupun belakangan” (Majmuu’ul Fataawa). Al Qurthubi mengatakan, “Dan tidak ada perselisihan diantara umat ini tentang wajibnya bertaubat, dan bahwasanya ia termasuk kewajiban setiap individu” (Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an)</p>
<p>Saudaraku yang tercinta,<br />
Salah satu bukti kasih sayang Allah ta’ala kepadamu yaitu Dia menjadikan taubat itu sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, … agar Dia memaafkan kamu dan supaya dosa-dosamu diampuni-Nya, dan Allah pun akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu. Allah ‘azza wa jalla tidak sedikitpun membutuhkan apa-apa dari kita, baik yang berupa ketaatan maupun amal-amal kita. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Tidaklah akan sampai kepada Allah daging-daging sembelihan itu, tidak juga darah-darahnya akan tetapi yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan kalian” (QS. Al Hajj [22] : 37)</p>
<p>Maka bersegeralah wahai saudaraku, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh. Perbaharuilah taubat setiap hari dan setiap waktu. Karena sesungguhnya seseorang yang bertaubat dari dosa-dosanya dan benar-benar menyesalinya tidaklah terhitung sebagai orang yang terus menerus berkubang dalam dosa, meskipun dalam sehari dia telah melakukannya lebih dari 70 kali!!</p>
<p>Bertaubatlah sekarang juga<br />
Saudaraku yang tercinta, taubat itu wajib dilakukan dengan segera. Artinya tidak boleh mengakhirkan dan menunda-nundanya. Karena hal itu tergolong dosa baru yang membutuhkan taubat lagi. Tidakkah orang yang menunda-nunda taubat ini menyadari ketika dia berkata, “Besok saya akan bertaubat” bahwa besok belum tentu dia masih hidup.</p>
<p>Bahkan lebih dari itu, dia pun tidak tahu apakah saat itu dia masih sanggup bisa berdiri dari tempatnya. Karena kematian terkadang datang secara tiba-tiba, tanpa ada sebab-sebab maupun tanda-tanda yang tampak. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang mengalami kematian secara tiba-tiba akibat terkena serangan jantung secara mendadak, kecelakaan yang tiba-tiba atau karena sebab-sebab lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui secara pasti apa yang akan dilakukannya besok hari, dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati” (QS. Luqman [31] : 34)</p>
<p>Allah memerintahkan agar kita bersegera dalam meraih sebab-sebab yang bisa mendatangkan ampunan, sedangkan taubat termasuk diantaranya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersegeralah kalian untuk menggapai ampunan dari Tuhan kalian serta surga yang lebarnya selebar langit dan bumi” (QS. Ali ‘Imran [3] : 133). Allah berfirman (yang artinya), “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah [2] : 148). Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan orang-orang yang apabila melakukan kekejian atau kezaliman terhadap diri sendiri mereka lantas mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang bisa memberikan ampunan terhadap dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus berkubang dalam kesalahan sedang mereka mengetahuinya” (QS. Ali Imran [3] : 135).</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang terus menerus dalam dosa yang dilakukannya sementara dia menyadarinya” (HR. Ahmad dan dinilai shahih Al Albani)</p>
<p>Oleh karenanya, wahai saudaraku yang tercinta!<br />
Bertaubatlah sekarang juga, sebelum kezaliman itu semakin bertumpuk-tumpuk menjejali hatimu sehingga engkaupun menjadi tidak sanggup lagi membendung derasnya perbuatan maksiat.<br />
Bertaubatlah sekarang, sebelum sakit atau kematian menimpamu sehingga tidak bisa lagi kau dapatkan kesempatan emas untuk bertaubat.<br />
Bertaubatlah sekarang, sebelum malaikat maut datang kepadamu lantas kaupun menyesalinya, “Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia” maka Allah pun menjawab, “Sekali-kali tidak”.</p>
<p>Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari buku mungil berjudul ‘Ayyuhal muqashshir mata tatubu?’</p></div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=88&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/25/bertaubatlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Shalih Adalah Aset Orang Tua</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/18/anak-shalih-adalah-aset-orang-tua/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/18/anak-shalih-adalah-aset-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 03:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[َلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=85&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="rtl"><strong>َلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافًا. (النساء: 9).<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. وَأَحْيِنَا اَللَّهُمَّ عَلَى سُنَّتِهِ وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ. وَبَعْدُ؛</strong></p>
<p dir="rtl"><strong><span id="more-85"></span></strong></p>
<p>Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya.<br />
Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa.<br />
Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ وَالْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ.</strong></p>
<p>Artinya: “Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I, kata Al Haitsamin).</p>
<p>Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.</p>
<p>Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.<br />
Kehidupan sebagian besar selebritis yang banyak dipuja orang itu tidak lebih seperti kehidupan binatang yang tak tahu tujuan hidupnya selain hanya makan dan mengumbar nafsu birahinya. Hura-hura, pergaulan bebas, miras, narkoba dan gaya hidup yang serba glamour adalah konsumsi sehari-hari mereka. Sangat jarang kita saksikan di antara mereka ada yang perduli dengan tujuan hakiki mereka diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , kalaupun ada mereka hanya menjadikan ritualisme sebagai alat untuk meraih tujuan duniawi, untuk mengecoh masyarakat tentang keadaan mereka yang sebenarnya. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka” (An Nisa: 9).</p>
<p>Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin . (Tafsir Ibnu Katsir: I, hal 432) Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan.</p>
<p>Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.<br />
Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.<br />
Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut:</p>
<p>1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.</strong></p>
<p>Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)</p>
<p>Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah sama mengetahui bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan,melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , dan menjauhi larangan-laranganNya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan DienNya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika</p>
<p>anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan senang bermaksiat kepadaNya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus.</p>
<p>Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala .<br />
Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , menjauhi larangan-laranganNya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan.</p>
<p>2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih.<br />
Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:</p>
<p>a. Lingkungan keluarga<br />
Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya.<br />
Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna keIslaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna keIslaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai keIslaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral.<br />
Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري).</strong></p>
<p>Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya.</p>
<p>Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya</p>
<p>b. Lingkungan Sekolah<br />
Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak.</p>
<p>Faktor yang juga cukup menentukan dalam membentuk watak dan karakter anak di sekolah adalah konsep yang diterapkan sekolah tersebut dalam mendidik dan mengarahkan setiap anak didik.</p>
<p>Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.</p>
<p>Kualitas intelektual dan moral keagamaan tenaga pengajar serta kurikulum yang dipakai di sekolah termasuk faktor yang sangat menentukan dalam melahirkan murid yang berkualitas secara intelektual dan moral keagamaan.</p>
<p>Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya.<br />
Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik.</p>
<p>c. Lingkungan Masyarakat<br />
Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar.<br />
Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.<br />
Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak.</p>
<p>Masyarakat terbentuk atas dasar gabungan individu-individu yang hidup pada suatu komunitas tertentu. Karena dalam membentuk masyarakat yang harmonis setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Persepsi yang keliru biasanya masih mendominasi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah pemerintah, para da’i, pendidik atau ulama. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam , bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ. (رواه مسلم).</strong></p>
<p>Artinya: “Barangsiapa di antaramu melihat kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka dengan lidahnya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)</p>
<p>Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah&#8230;” (Ali Imran: 110).</p>
<p>Amar ma’ruf adalah kewajiban setiap individu masing-masing yang harus dilaksanakan. Jika tidak maka Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , pasti akan menimpakan adzabnya di tengah-tengah kita dan pasti kita akan tergolong orang-orang yang rugi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran: 104).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=85&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/18/anak-shalih-adalah-aset-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAK &amp; ETIKA BEKERJA DALAM ISLAM</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/03/akhlak-etika-bekerja-dalam-islam/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/03/akhlak-etika-bekerja-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 01:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Bekerja Sebagai Satu Kewajiban Seorang Hamba Kepada Allah SWT Allah SWT memerintahkan bekerja kepada setiap hamba-hamba-Nya (QS. Attaubah/ 9 : 105) : Dan katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu&#8217;min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=81&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bekerja Sebagai Satu Kewajiban Seorang Hamba Kepada Allah SWT</strong></p>
<ul>
<li>Allah SWT memerintahkan bekerja kepada setiap hamba-hamba-Nya (QS. Attaubah/ 9 : 105) :</li>
</ul>
<p>Dan katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu&#8217;min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221;.</p>
<p><span id="more-81"></span>Seorang insan minimal sekali diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada dirinya sendiri, dan juga kepada keluarganya.</p>
<ul>
<li>Dalam Islam terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa biaya &amp; harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya/ harta tidak mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Maka bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib. Kaidah fiqhiyah mengatakan :</li>
</ul>
<p>مَالاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ</p>
<p>Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.</p>
<p><strong>Keutamaan (Fadhilah) Bekerja Dalam Islam</strong></p>
<ul>
<li>Orang yang ikhlas bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :</li>
</ul>
<p>مَنْ أَمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ (رواه الطبراني)</p>
<p>Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. (HR. Thabrani)</p>
<ul>
<li>Akan diampuninya suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, zakat, haji &amp; umrah. Dalam sebuah riwayat dikatakan :</li>
</ul>
<p>إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ لَذُنُوْبًا، لاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ وَلاَ الصِّياَمُ وَلاَ الْحَجُ وَلاَ الْعُمْرَةُ، قَالَ وَمَا تُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ الْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ (رواه الطبراني)</p>
<p>‘Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah.’ Sahabat bertanya, ‘Apa yang dapat menghapuskannya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Semangat dalam mencari rizki.’ (HR. Thabrani)</p>
<ul>
<li>Mendapatkan ‘Cinta Allah SWT’. Dalam sebuah riwayat digambarkan :</li>
</ul>
<p>إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ (رواه الطبراني)</p>
<p>Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja. (HR. Thabrani)</p>
<ul>
<li>Terhindar dari azab neraka</li>
</ul>
<p>Dalam sebuah riwayat dikemukakan, &#8220;Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa&#8217;ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, &#8216;Kenapa tanganmu?&#8217; Saad menjawab, &#8216;Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, &#8216;Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka&#8217;&#8221; (HR. Tabrani)</p>
<p><strong>Pertanyaan Besar Tentang Pekerjaan Kita</strong></p>
<ul>
<li>Apakah pekerjaan yang kita lakukan akan mengantarkan kita ke surga?</li>
</ul>
<ul>
<li>Apa syarat – syarat yang dapat menjadikan pekerjaan kita sebagai sarana untuk mendapatkan surga Allah SWT?</li>
</ul>
<ul>
<li>Bagaimana menjadikan pekerjaan kita sebagai sarana untuk mendapatkan surga?</li>
</ul>
<p><strong>Syarat Mendapatkan Surga Dengan Bekerja</strong></p>
<ol>
<li>Niat Ikhlas Karena Allah SWT</li>
</ol>
<p>النية الخاصة لله تعالى</p>
<p>Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah SWT sebagai kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Dan konsekwensinya adalah ia selalu memulai aktivitas pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. Ketika berangkat dari rumah, lisannya basah dengan doa <em>bismillahi tawakkaltu alallah.. la haula wala quwwata illa billah..</em> Dan ketika pulang ke rumahpun, kalimat tahmid menggema dalam dirinya yang keluar melalui lisannya.</p>
<p>2. Itqan, sungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja</p>
<p>الإتقان في العمل</p>
<p>Syarat kedua agar pekerjaan dijadikan sarana mendapatkan surga dari Allah SWT adalah profesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja.</p>
<p>Diantara bentuknya adalah, tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, memiliki keahlian di bidangnya dsb.</p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda</p>
<p>إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبراني)</p>
<p>Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. (HR. Tabrani_</p>
<p>3. sikap Jujur &amp; Amanah</p>
<p>الصدق والأمانة</p>
<p>Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اْلأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ (رواه الترمذي)</p>
<p>Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)</p>
<p>4. Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim</p>
<p>التخلق بالأخلاق الإسلامية</p>
<p>Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu&#8217;min.</p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه الترمذي)</p>
<p>Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Turmudzi)</p>
<p>5. Tidak Melanggar Prinsip-Prinsip Syariah</p>
<p>مطبقا بالشريعة الإسلامية</p>
<p>Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal :</p>
<p><strong> </strong><strong>Pertama</strong> dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi tidak boleh barang yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir, gharar dsb.</p>
<p><strong> </strong><strong>Kedua</strong> dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, <strong>ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan</strong>, dsb.</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad, 47 : 33)</p>
<p>6. Menghindari Syubhat</p>
<p>الإبتعاد عن الشبهات</p>
<p>Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. Atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal.</p>
<p>Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, <em>&#8220;Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus pada yang diharamkan&#8230;&#8221; </em>(HR. Muslim)</p>
<p>7. Menjaga Ukhuwah Islamiyah</p>
<p>المراعاة بالأخوة الإسلامية</p>
<p>Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah ukhuwah islamiyah antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif agar tidak merusak ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, &#8220;<em>Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian</em>&#8221; Karena jika terjadi kontradiktif dari hadits di atas, tentu akan merenggangkan juga ukhuwah Islamiyah diantara mereka; saling curiga, su&#8217;udzon dsb.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=81&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2009/08/03/akhlak-etika-bekerja-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akibat Memakan Harta Riba.doc</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2008/10/16/akibat-memakan-harta-ribadoc/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2008/10/16/akibat-memakan-harta-ribadoc/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 13:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Akibat Memakan Harta Riba Oleh: Ade Zarkasyi bin Sabit إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=75&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	color:windowtext;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	color:#0033CC;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><strong></strong><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;">Akibat Memakan Harta Riba</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;">Oleh: Ade Zarkasyi bin Sabit</span></strong></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛<br />
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.<br />
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:<br />
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.<br />
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.<br />
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.</span></strong></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA"><span id="more-75"></span><br />
</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Kaum muslimin seiman dan seaqidah<br />
Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta&#8217;ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
“Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Maha Besar Allah yang telah berfirman:<br />
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallaahu anhu berkata:<br />
“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).<br />
Imam Qatadah juga berkata:<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia… inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:</span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari’at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:</span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, motor yang dikendarainya pun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do’a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala menegaskan:<br />
“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 161).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<br />
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.</span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><br />
<strong>Khutbah Kedua</strong></span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛<br />
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ.</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Dalam khutbah kedua ini, setelah kita menyadari realitas yang ada, marilah kita sering-sering beristighfar kepada Allah, karena tidak ada obat penyembuh dari kesalahan dan kedurhakaan yang telah kita lakukan kecuali hanya dengan mengakui segala dosa kita lalu beristighfar memohon ampun kepada Allah dan untuk tidak mengulanginya kembali sambil beramal shalih menjalankan ketaatan unukNya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud Alaihissalam kepada kaumnya:<br />
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52).<br />
Pada penutup khutbah ini, marilah kita memunajatkan do’a kepada Allah sebagai bukti bahwasanya kita ini fakir di hadapan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala .</span></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:15pt;" lang="AR-SA">اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.<br />
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.<br />
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.<br />
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.</span></strong></p>
<p><span dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=75&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2008/10/16/akibat-memakan-harta-ribadoc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Proposal Nikah</title>
		<link>http://mujahid.wordpress.com/2008/04/09/proposal-nikah/</link>
		<comments>http://mujahid.wordpress.com/2008/04/09/proposal-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 07:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mujahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Proposal Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mujahid.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !! Latar Belakang Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=73&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="color:#0000ff;"><em>KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!</em></span></h1>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga    Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan    nikmatNya kepada kita. Amin</p>
<p><span id="more-73"></span></p>
<p>Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah    diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : &#8220;Kami akan    perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka,    sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha    Melihat segala sesuatu&#8221;.</p>
<p>Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan    terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat    pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah,    hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na&#8217;udzubillah ! Dan Allah telah    berfirman : <em>&#8220;Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan    yang    buruk lagi kotor&#8221;</em> <strong>(Qs. Al Israa&#8217; : 32)</strong>.</p>
<p>Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh    amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan    maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya    pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi    kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. &#8220;Saya nggak sempat mikirin    kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,&#8221; ataupun Kerja    belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga��, begitu kata mereka,    padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar    agar tak berbuat maksiat. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p>Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang    cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan.    Setiap saya menulis peristiwa anak muda di� majalah Islam, pada saat yang    sama    terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah..    Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin    menyegerakan menikah.</p>
<p><strong>Dasar Pemikiran</strong></p>
<p>Dari Al Qur��an dan Al Hadits :</p>
<ol>
<li><em>�&#8221;Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan      orang-orang      yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu      yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN      KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.&#8221;</em><strong> (QS. An      Nuur (24) : 32).</strong></li>
<li><em>&#8220;Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat      kebesaran Allah.&#8221;</em> <strong>(QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).</strong></li>
<li><em>�Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya,      baik      dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang      tidak mereka ketahui��<strong> </strong></em><strong>(Qs. Yaa Siin (36) :      36).</strong></li>
<li> <em>Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari      jenis      kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian      anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik</em> <strong>(Qs. An Nahl (16) : 72).</strong></li>
<li> <em>Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu      isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram      kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya      pada      yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir</em>.      <strong>(Qs. Ar. Ruum (30) : 21).</strong></li>
<li><em> Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka      (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh      (mengerjakan) yang ma&#8217;ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat,      menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan      diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</em> <strong>(Qs. At Taubah (9) : 71).</strong></li>
<li> <em>Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah      menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian      Dia      kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.</em><strong> (Qs. An      Nisaa (4) : 1)</strong>.</li>
<li><em>Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk      wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski      yang melimpah (yaitu : Surga) </em><strong>(Qs. An Nuur (24) : 26).</strong></li>
<li><em> ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga,      atau      empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah)      seorang saja..</em><strong>(Qs. An Nisaa&#8217; (4) : 3).</strong></li>
<li><em>Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi      perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu      ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan      barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat      kesesatan yang nyata.</em> <strong>(Qs. Al Ahzaab (33) : 36).</strong></li>
<li><em> Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda:      &#8220;Nikah      itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !&#8221;</em><strong>(HR.      Ibnu Majah,      dari Aisyah r.a.).</strong></li>
<li> <em>Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang,      memakai wewangian, bersiwak dan menikah </em><strong>(HR. Tirmidzi).</strong></li>
<li> Dari Aisyah, <em>&#8220;Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya      mereka      akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu�� (HR. Hakim dan Abu Dawud).      14.�Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya      akan      timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang      menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: &#8220;Barangsiapa diberi      Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya.      Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.&#8221;<strong> </strong></em><strong>(HR.      Baihaqi).</strong></li>
<li> <em>Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya      ialah wanita shalihat.</em><strong>(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).</strong></li>
<li>&#8220;Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah� (HR. Tirmidzi, Ibnu      Hibban      dan Hakim) :      a.�Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah.      b.�Budak yang menebus dirinya dari tuannya.      c.�Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.&#8221;</li>
<li> <em>&#8220;Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah      ia      nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.&#8221;</em> <strong>(HR.      Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas&#8217;ud).</strong></li>
<li><em> Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak.      Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak</em><strong> (HR. Abu      Dawud).</strong></li>
<li><em> Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah      (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat      yang lain</em> <strong>(HR. Abdurrazak dan Baihaqi)</strong>.</li>
<li> <em>Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik,      daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) </em><strong> (HR. Ibnu Ady      dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)</strong>.</li>
<li> Rasulullah SAW. bersabda : &#8220;Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak      menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah&#8221;<strong> (HR.      Bukhari).</strong></li>
<li><em> Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang,      dan      kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup      membujang</em> <strong>(HR. Abu Ya��la dan Thabrani).</strong></li>
<li><em> Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu      dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan      terhormat</em>. <strong>(HR. Ibnu Majah,dhaif)</strong>.</li>
<li> <em>Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian      diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki,      dan      menambah keluhuran mereka</em><strong> (Al Hadits).</strong></li>
</ol>
<p><strong>Tujuan Pernikahan</strong></p>
<ol>
<li>Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.</li>
<li> Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.</li>
<li> Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.</li>
<li> Mendapatkan cinta dan kasih sayang.</li>
<li> Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari      perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).</li>
<li> Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).</li>
<li> Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan      kekeluargaan)</li>
</ol>
<p><strong>Kesiapan Pribadi </strong></p>
<ol>
<li>Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah.      Rasulullah SAW. bersabda : ��Man Jadda Wa Jadda�� (Siapa yang bersungguh-sungguh      pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).</li>
<li> Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).</li>
<li> Termasuk� tathhir (mensucikan diri).</li>
<li> Secara materi, Insya Allah siap. ��Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah      menurut kemampuannya��� (Qs. At Thalaq (65) : 7)</li>
</ol>
<p><strong>Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan </strong></p>
<ul type="square">
<li>Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.</li>
<li> Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.</li>
<li> Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan      dan      kasih sayang bagi orang yang menikah.</li>
<li> Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban      menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.</li>
<li> Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.      Rasulullah SAW. bersabda:<em> &#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,      janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi      mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.&#8221;</em><strong> (HR. Ahmad)</strong> dan      &#8220;Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari      besi      lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya&#8221;<strong> (HR. Thabrani      dan Baihaqi)</strong>.. Astaghfirullahaladzim.. Na&#8217;udzubillahi min dzalik</li>
</ul>
<p>Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai    berikut ini :</p>
<ul>
<li> Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir,      DR, SE, SH, ST, dsb</li>
<li> Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan      tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu&#8217;an sesuai dengan kemampuan      yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha      Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari� manusia      (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada      apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)</li>
<li> Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.</li>
<li> Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru      dengan      menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat      menyelesaikan kuliah.</li>
</ul>
<p><strong>Memperbaiki Niat :</strong></p>
<p><em>Innamal a&#8217;malu binniyat&#8230;&#8230;.</em> Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan    pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya,    baik secara segera maupun ditangguhkan.</p>
<p><strong> Niat Ketika Memilih Pendamping</strong></p>
<p>Rasulullah bersabda <em>&#8220;Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau    akan    kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah    pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena    kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang    menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa    yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan    padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan    nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi    barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.&#8221;</em><strong>(HR. Thabrani).</strong></p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan    itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin    saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita    karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk    wajahnya adalah lebih utama&#8221;.</em> <strong>(HR. Ibnu Majah).</strong></p>
<p><em>Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab    (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) </em><strong>(Al    Hadits)</strong>.</p>
<p><em>Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ��Sesungguhnya    perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan    kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.&#8221; </em><strong>(HR. Muslim    dan Tirmidzi).</strong> Niat dalam Proses Pernikahan</p>
<p>Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai    berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi    mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari    dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya&#8217;.    <em>&#8220;Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai    pemberian dengan penuh kerelaan.&#8221;</em>(Qs. An Nisaa (4) : 4).</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda : <em>&#8220;Wanita yang paling agung barakahnya, adalah    yang paling ringan    maharnya&#8221;</em> <strong>(HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang    shahih)</strong>. Dari    Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya berkah    nikah    yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)&#8221;</em> <strong>(HR.    Ahmad)</strong>. Nabi SAW    pernah berjanji : <em>&#8220;Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau    lelaki    itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan    menjadi wali pernikahannya.&#8221;</em> <strong>(HR. Ashhabus Sunan)</strong>.    Dari Anas, dia berkata :    &#8221; Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya&#8221;    <strong>(Ditakhrij    dari An Nasa&#8217;i</strong>)..Subhanallah..</p>
<p>Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan    mudah    insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan    bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori    niat.<em> &#8220;Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhari dan    Muslim)</strong></p>
<p>Pernikahan haruslah memenuhi kriteria <em>Lillah, Billah, dan Ilallah</em>.    Yang dimaksud    <strong>Lillah</strong>, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan    caranya harus    <strong>Billah</strong>, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya    dalam pemilihan    calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau    tidak). Terakhir <strong>Ilallah</strong>, tujuannya dalam rangka menggapai    keridhoan Allah.</p>
<p>Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya    :    adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak    makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini    yang    harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian),    Pengantin tidak disandingkan, adab mendo&#8217;akan pengantin dengan do&#8217;a :    <em>Barokallahu laka wa baroka &#8216;alaikum wa jama&#8217;a baynakuma fii khoir.</em>.    (Semoga    Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak    bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (&#8220;<em>Dan    janganlah    bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama&#8221; </em>-    Qs. Al Ahzab    (33),</p>
<p><strong>Meraih Pernikahan Ruhani</strong></p>
<p>Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka    ia    akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis,    seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang    sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena    itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan    hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling    mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk    Allah.</p>
<p>Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah.    Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis,    melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah,    kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani.    KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH    UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS� PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><em>&#8220;Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang    dihalalkan    oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka    kepada orang-orang yang melampaui batas.&#8221; </em><strong>(Qs. Al Maidaah    (5) : 87).</strong></p>
<p><em> Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya    sesudah kesulitan itu ada kemudahan</em> <strong>(Qs. Alam Nasyrah (94) : 5-    6 )</strong>.</p>
<p>Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai    atas    nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat    berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari    Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan &#8220;Jazakumullah Khairan katsiira&#8221;.    &#8220;Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan    jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku    menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau    segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN    UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin&#8221;</p>
<p>==================================== <em><br />
Dedicated to : My inspiration &#8230;. yang pernah singgah dan menghuni &#8220;hati&#8221;    &#8230;Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu,    kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..    Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani    panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. &#8221; Saat Cinta dan Rindu�    tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..&#8221;<br />
</em> ====================================</p>
<p><strong>Maraji / Referensi :</strong></p>
<ol>
<li>Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.</li>
<li> Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.</li>
<li> Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma&#8217;arif.</li>
<li> Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta,      Mitra Pustaka.</li>
<li> Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta,      Gema      Insani Press.</li>
<li> Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet.      1,      Jakarta, Studia Press.</li>
<li> Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan,      1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.</li>
<li> Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta,      Gema Insani Press</li>
<li> Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta,      Gema Insani Press.</li>
<li> Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th.      2      31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mujahid.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mujahid.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mujahid.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mujahid.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mujahid.wordpress.com&amp;blog=350569&amp;post=73&amp;subd=mujahid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mujahid.wordpress.com/2008/04/09/proposal-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f86f664371339d33888aae6be17e9c37?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mujahid</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
